Sulap Uang Muncul Dari Tangan Kosong

19 Agustus 2009

Sulap ini lebih Terkenal dengan
sebutan MONEY MACHINE atau
Mesin Uang. Dikalangan pesulap
senior trik ini sering dimainkan. Kalo
aku sendiri lebih suka menyebut ini
dengan Merubah Udara jadi Uang
karena lebih serem. Atau
Mendatangkan Uang Dengan
Tangan Kosong. Oke langsung aja.
Cara Bermain Trik Sulap ini:
Pesulap menunjukan bahwa kedua
tangannya kosong dan memang
kosong tidak memegang apa-apa.
Untuk membuktikanya pesulap
menarik lengan bajunya secara
bergantian.
Setelah itu pesulap menyatukan
kedua tanganya dan melakukan
gerakan membaca sesuatu untuk
memberi efek yang lebih
mengesankan. Tiba-tiba saja uang
kertas 20 ribuan muncul dari
tanganya ada sekitar 6 lembar.
Rahasianya Trik Sulap ini:
Saat melakukan permainan ini,
gunakanlah baju lengan panjang
kalo bisa jas. Siapkan beberapa
lembar uang yang sudah kalian
gulung dan letakan di belakang siku.
Kalo sudah sekarang tinggal
kelincahan kalian dalam mengalihkan
perhatian.
Pada saat kalian menunjukan tangan
kiri kalian kosong, tangan kanan
kalian mengambil gulungan uang
yang sudah kalian sediakan di
belakang punggung siku tangan kiri
kalian. Lalu kalian menyatukan kedua
telapak tangan kalian untuk
memberikesan kalian sedang
bersiap-siap. Dan lakukanlah sedikit
gerakan agar memberi efek yang
mengesankan, tapi jangan
berlebihan. Munculkanlah uang itu
dengan tehnik kalian, bisa sambil
menggosok-gosokan kedua telap
tangan atau yang lain.
Nb: Dalam memainkan sulap ini
sebelum uang yang ada di belakang
siku kalian, jangan sekalai-kali siku
kalian diluruskan. Tapi setelah uang
yang ada di belakang siku sudah
diambil itu terserah kalian.
Baca Selengkapnya... - Sulap Uang Muncul Dari Tangan Kosong

Menyusuri LorongKenangan Ajip Rosidi

Judul : Hidup Tanpa Ijazah, Yang
Terekam dalam Kenangan
Penulis : Ajip Rosidi
Penerbit : Pustaka Jaya
Tebal : 1330 halaman
Cetakan : Januari 2008
Ajip Rosidi memang tokoh luar
biasa. Ia bukan orang baru dalam
jagat sastra Indonesia. Pemikirannya
telah memberikan sumbangan yang
sangat berharga bagi sastra dan
kebudayaan Indonesia. Namun
siapa sangka, guru besar tamu pada
Osaka Gaikokugo Daigaku
(Universitas Bahasa Asing), Jepang,
ini bahkan tidak memiliki ijazah
sekolah menengah.
Itulah salah satu kisah hidup yang
disampaikan oleh Ajip Rosidi dalam
buku Hidup Tanpa Ijazah ini. Di
dalam buku ini Ajip mengisahkan,
alasan mengapa ia tidak memiliki
ijazah sekolah menengah.
Kejadiannya bermula ketika ujian
nasional sekolah menengah ditahun
1956, dikabarkan sering mengalami
kebocoran soal. Banyak orang yang
dapat memperoleh soal ujian
sebelum waktu ujian tiba. Tentu
saja, caranya dengan menyogok
guru sekolah.
Dari kenyataan inilah Ajip Rosidi
memilih untuk tidak mengikuti ujian
sekolah menengah. Baginya, hidup
tidak harus digantungkan pada
secarik kertas bernama ijazah.
Prestasi kerja, kemampuan dan
pengakuan masyarakat terhadap
seseoranglah yang dapat
menentukan seseorang dapat
bekerja atau tidak.
Oleh karena itu, Ajip yang saat itu
sudah memperoleh pengalaman
mengajar dan menulis sastra,
merasa tidak memerlukan ijazah
lagi. Ia ingin membuktikan bahwa
seseorang dapat hidup tanpa ijazah.
Keinginannya tersebut ia kemukakan
kepada kepala sekolahnya.
Dari sisi yang lain, Ajip dapat
digolongkan sebagai seseorang
yang berani untuk mengungkapkan
gagasan dan opininya mengenai
sesuatu. Ia selalu bicara langsung
pada inti persoalan, tanpa ditutup-
tutupi, jika ada hal yang ingin
disampikan. Ia bahkan seperti tidak
memedulikan siapa orang yang
sedang diajaknya bicara. Apalagi
kalau dirinya yakin apa yang
dikemukakannya adalah sesuatu
yang benar.
Misalnya saja ketika ia
mengungkapkan ketidaksetujuannya
perihal roman psikologis yang
disampaikan oleh guru Kesusateraan
Indonesia di sekolah menangah.
Ketika itu Ajip mengemukakan
argumentasinya. Namun belum
selesai ia bicara, guru tersebut
membentak dan menyuruhnya
keluar. Sayang, pada bagian ini Ajip
tidak menceritakan kelanjutan
peristiwa tersebut. Apakah ia benar-
benar keluar dari kelas, atau tetap
berada di dalam kelas dan
mempertahankan argumentasinya.
Keberanian Ajip tersebut terus
terbawa saat ia berkiprah sebagai
satrawan. Misalnya saja ketika ia
menuliskan karangannya di
Sipatahaoenan. Ketika karangan
tersebut dimuat, reaksi yang
muncul sungguh di luar dugaan.
Kala itu ia mendapat serangan dari
banyak sastrawan Sunda. Namun
semua itu ditanggapinya dengan
nada mengolok-olok. Tujuan Ajip
tentu bukan sekadar mengolok-olok,
tetapi ia ingin ada geliat baru dalam
kesusatraan Sunda.
Nada serupa juga terlihat ketika Ajip
menanggapi rencana rektor
Universitas Padjadjaran untuk
memberikan gelar penghormatan.
Namun hingga melewati batas
waktu yang direncanakan, tidak juga
ada kejelasan soal pemberian gelar
kehormatan tersebut. Akhirnya,
pidato yang dipersiapkan untuk
menerima gelar kehormatan itu
dimasukkan ke dalam buku yang
diterbitkan untuk menyambut 70
Tahun Romo dick Hartoko yang
sudah dikenalnya sejak lama.
Menanggapi ketidakjelasan tersebut,
Ajip Rosidi mengatakan bahwa ia
tidak memerlukan gelar
penghargaan. Selama ini ia sudah
hidup cukup baik tanpa gelar apa
pun. Ketika temannya meminta Ajip
untuk menelusuri surat rahasia dari
Menteri Pendidikan kepada Dirjen
Pendidikan Tinggi, Ajip menolak dan
dengan tegas. Ia mengatakan,
dirinya tidak membutuhkan gelar
itu. Bagi Ajip gelar tersebut tidak
banyak artinya. Gelar kehormatan
itu tidak akan menaikkan gajinya di
Jepang, dan tidak akan membuatnya
lebih terkenal.
Salah satu gagasan penting Ajip
Rosidi dalam kesusasteraan adalah
pemberian penghargaan Rancage.
Hadiah ini diberikan khusus kepada
karya-karya sastra berbahasa
daerah. Pada awalanya
penghargaan tersebut hanya
diberikan kepada karya sastra
Sunda. Namun pada
perkembangannya, hadiah Rancage
tidak hanya diberikan kepada sastra
berbahasa Sunda, tetapi juga bahasa
daerah lainnya seperti Sastra Jawa
dan Sastra Bali.
Ajip mejelaskan, pemberian hadiah
Rancage adalah semata-mata untuk
menunjukkan bahwa kerja keras
para penulis sastra daerah
mendapat perhatian yang layak, dan
dihargai. Kata Rancage sendiri
diambil dari carita pantun yang
berarti aktif-kreatif.
Di samping gagasan dalam sastra
dan kebudayaan, hal yang juga
menarik dari buku ini adalah
penggalan-penggalan cerita dari
sejumlah orang yang pernah
berinterkasi dengan Ajip. Mereka
bisa keluarga, kerabat, satrawan,
pejabat atau tokoh politik yang
pernah bertemu dengannya. Dari
sinilah pembaca dapat mengetahui
kisah-kisah yang bersifat human
interest dari tokoh tersebut.
Salah satu orang dikisahkan oleh
Ajip adalah Pramoedya Ananta
Toer. Dalam buku ini Ajip
memaparkan bahwa Pramoedya
adalah orang yang sangat
egosentris. Buktinya Pramoedya
mengajak istrinya untuk tidak tinggal
bersama mertuanya. Meskipun
mertuanya adalah orang kaya yang
memiliki banyak rumah, namun
Pramoedya memilih untuk tinggal di
rumah petak beralas tanah di
kawasan Rawamangun, Jakarta,
bersama istrinya. Padahal, menurut
Ajip, mungkin baru saat itulah
Maemunah, istri Pramoedya, untuk
pertama kalinya tinggal di rumah
beralas tanah.
Masih kisah di seputar Pramoedya,
Ajip menceritakan bagaimana di
masa Pram mengalami krisis
keuangan, ia mendapat order untuk
menerjemahkan karya utama
Maxim Gorky, Ibunda. Menurut Ajip,
tidak mengherankan jika Pramoedya
sampai beranggapan bahwa orang
yang membantunya ketika
mengalami kesulitan adalah orang
kiri. Hal ini terjadi ketika sejumlah
majalah tidak mau lagi memuat
tulisan-tulisannya, dan beberapa
penerbit mengembalikan hak
penerbitannya serta berhenti
mencetak buku-buku Pram.Buku
Hidp Tanpa Ijazah ini memang
menarik untuk dibaca. Gaya bertutur
Ajip yang khas, tulisan yang enak
dibaca, dan isi yang kaya, membuat
pembaca tidak bosan untuk
membaca buku ini hingga akhir,
seperti menyusuri lorong kenangan
yang sarat dengan kisah dan cerita
hidup. ****
Baca Selengkapnya... - Menyusuri LorongKenangan Ajip Rosidi

Eksklusi Sosial PetaniChina

KEMAJUAN ekonomi China memang
pesat dan mencengangkan. Tidak
mengherankan jika di Asia,secara
ekonomi, China bukan lagi anjing
lucu, tetapi telah berubah menjadi
serigala menggetarkan banyak
negara.
Hal inilah yang acap menjadi
inspirasi bagi sejumlah negara di
Asia untuk menggenjot kemajuan
ekonomi mereka untuk
memperoleh pencapaian yang sama
dengan negeri tirai bambu itu.
Namun di balik kemajuan itu,
banyak cerita memilukan terjadi.Hal
ini terjadi terutama pada para petani.
Dalam buku ini dikisahkan
bagaimana para petani di China
mendapat tekanan yang luar biasa
dari para pejabat lokal.Tekanan
tersebut dilakukan dengan cara yang
bahkan tidak berperikemanusiaan.
Akibatnya, para petani tersebut
menghadapi penderitaan yang
hebat. Salah satu bentuk tekanan
yang dilakukan pejabat lokal adalah
pemungutan pajak atas para petani
dengan jumlah yang jauh di luar
batas kemampuan. Pungutan pajak
tersebut tidak lagi memandang
kemampuan petani, para pejabat
lokal hanya mau tahu para petani
tersebut melunasi pajaknya
sesegera mungkin.
Ironisnya, para pejabat itu
menggunakan hasil pungutan pajak
untuk kepentingan dan kekayaannya
sendiri Akibat dari tekanan ini, sering
kali terjadi pertikaian antara para
petani dengan pejabatpejabat lokal.
Tidak jarang pertikaian tersebut
berujung pada tindak penyiksaan
dan pembantaian.
Kejadian seperti di atas bukan hal
baru di China. Salah satu kisah
penyiksaan itu terjadi di desa Zhang,
Provinsi Anhui. Kejadian ini bermula
ketika Deputi Kepala di desa tersebut
mulai bosan dan kian geram dengan
para petani yang selalu mengadukan
perbuatannya menyalahgunakan
dana warga.
Ketika kekesalan sang Deputi Kepala
memuncak,diajaknya petugas
keamanan dan anakanaknya untuk
mengunjungi salah seorang warga
desa bernama Zhang Guiyo. Zhang
Guiyo adalah warga desa yang
sering menyarangkan tuduhan
masalah keuangan desa Kepala
Deputi. Namun kunjungan itu
bukanlah kunjungan biasa,
melainkan bertujuan untuk
menganiaya Zhang Guiyo.
Menyikapi hal ini warga desa pun
bereaksi.Mereka mengadukan
perbuatan Deputi Kepala tersebut
kepada Kepala Partai di tingkat
desa.Hasilnya,aparat partai di tingkat
kecamatan menginstruksikan audit
umum yang menyangkut keuangan
di seluruh desa. Hal ini tentu saja
membuat Deputi Kepala meradang.
Bersama anaknya ia kembali
menyambangi rumah Zhang Guiyo.
Kericuhan kembali terjadi di rumah
ini. Buntutnya, dalam hitungan
menit, empat orang tewas di tangan
Kepala Deputi dan komplotannya.
Kejadian ini membuktikan
bagaimana arogansi kekuasaan dan
korupsi masih menjangkiti banyak
pejabat lokal di China.
Hal seperti di atas terjadi di hampir
seluruh wilayah pertanian di China.
Tanah pertanian yang harusnya
memberikan penghidupan bagi para
petani akhirnya menjadi beban bagi
mereka sendiri, terutama karena
pajak. Hal semacam inilah yang
kemudian mendorong para petani
China untuk bergerak menuju kota
dan menjadi ”migran kota”.
Jumlah migran kota ini sangat
besar.Pada tahun 2005 saja di
Shanghai terdapat 1, 25 juta migran
dari Anhui. Belum lagi dari provinsi-
provinsi lainnya. Di kota mereka
melakukan pekerjaan yang justru
ditampik oleh penduduk
lokal.Namun karena kerja keras
yang luar biasa, banyak dari migran
ini yang berhasil menduduki jabatan
manajerial dan membawahi
pekerja-pekerja lokal.
Eksklusi Sosial
Sayangnya, nasib migran kota tidak
seindah kedengarannya Ada
beberapa masalah yang
dikemukakan penulis buku ini. Salah
satunya adalah eksklusi sosial yang
dikenakan oleh pemerintah kota.
Kendati pun para migran ini telah
memberikan sumbangan besar bagi
perkembangan ekonomi, namun
pemerintah kota tidak akan pernah
memberikan status permanen di
kota.
Akibatnya, mereka tidak akan
mendapatkan asuransi kesehatan,
keuntungan perumahan yang
diperoleh warga kota lain.
Perlakukan diskriminatif ini tentu
sangat merugikan para migran kota.
Tampak di sini adanya sebuah garis
pembatas yang jelas antara
penduduk kota dan para migran
kota.
Pembatasan ini juga sekaligus
membatasi migran kota dalam soal
status, kesempatan, pendapatan,
populasi, dan pemberian izin kerja.
Sayangnya wewenang pembatasan
ini diserahkan kepada badan-badan
keamanan umum. Konsekuensinya,
migran kota diperlakukan sebagai
penjahat yang potensial. Hal ini
menciptakan kesenjangan antara
penduduk lokal dengan kaum
migran.
Tentu saja stabilitas sosial menjadi
terancam. Masalah berikutnya
adalah menurunnya jumlah sumber
daya manusia di desa. Hal ini
disebabkan migrasi masyarakat
desa ke kota.Akibatnya, investasi di
desa menjadi berkurang. Ekonomi
di pedesaan pun akan terkena
imbasnya.
Dari tahun 1985 hingga tahun 1994
misalnya, tercatat 300 miliar yuan
tersedot dari desa ke kota. Ini artinya
desa perlahan-lahan tengah
kehilangan potensinya dan
kemiskinan mulai membayang di
ambang pintu. Solusi dari persoalan
terakhir ini, menurut buku ini, adalah
mengembalikan potensi para petani.
Du Runsheng, salah satu pakar
ekonomi yang pernah menduduki
posisi penting di partai dan
pemerintahan China berpendapat,
penting untuk menciptakan sebuah
sistem maupun lingkungan yang
menguntungkan dan dapat
memotivasi para petani.
Misalnya saja mengundang-
undangkan hak penggunaan tanah
untuk para petani, termasuk di
dalamnya hak mengontrak, hak
mengelola, hak memakai, hingga
hak untuk menggunakannya
sebagai jaminan (halaman 337).
Buku yang pernah dilarang terbit di
China ini menunjukkan bahwa di
balik kemajuan China terdapat begitu
banyak persoalan, mulai dari
persoalan sosiologis, pembangunan
sosial,hingga ekonomi.
Dari sini pembacanya bisa belajar
bahwa pembangunan bukanlah hal
yang mudah. Karena itulah,
pembangunan menuntut
kesungguhan berbagai pihak. Disain
pembangunan pun tidak dapat
diserahkan begitu saja pada
teknokrat atau ekonom, tetapi
partisipasi masyarakat itu sendiri.
Pembangunan juga bukan melulu
persoalan pertumbuhan ekonomi
dan perkembangan industri yang
melaju pesat, tetapi juga
pembangunan yang berorientasi
pada manusia.(*)
Baca Selengkapnya... - Eksklusi Sosial PetaniChina

Meluruskan PersoalanMendasar Pesantren

Judul: Bilik-bilik Pesantren, Sebuah
Potret Perjalanan
Penulis: Nurcholish Madjid
Penerbit: Dian Rakyat dan
Paramadina
Terbit: 2010
Tebal: xxx + 162 halaman
Harga: Rp. 45.000
Pesantren sebagai salah satu pilar
pendidikan modern Islam, tengah
menghadapi tantangan yang tidak
ringan. Ia harus dapat menjawab
berbagai persoalan bangsa di tengah
kemajuan di berbagai bidang yang
tidak mungkin dihindari.
Itu sebabnya pesantaren, yang
selama ini memiliki stigma sebagai
lembaga pendidikan yang
konservatif dan cenderung anti-
modern, harus segera melakukan
perbaikan. Hal tersebut bertujuan
agar langkah pesantren dapat
sederap dengan kemajuan, dengan
tetap menjadi benteng nilai relijius.
Buku yang ditulis oleh Nurcholish
Madjid ini ingin mengungkapkan
masalah-masalah pokok dunia
pesantren di Indonesia. Masalah-
masalah itulah yang menurut
Nurcholish menjadikan pesantren
sulit untuk menemukan solusi
masalah-masalah bangsa.
Salah satu masalah pokok yang
diungkapkan Nurcholish adalah
lemahnya visi dan tujuan pendirian
pesanteran. Menurutnya, banyak
pesantren yang gagal merumuskan
tujuan dan visinya secara jelas. Ini
ditambah dengan kegagalan dalam
menuangkan visi tersebut pada
tahapan rencana kerja ataupun
program.
Akibatnya, sebuah pesantren hanya
berkembang sesuai dengan
kepribadian pendirinya, dengan
dibantu oleh kiai maupuin
pembantu-pembantulainnya. Tidak
mengherankan jika semangat
pesantren adalah semangat
pendirinya.
Bagi Nurcholish, keterbatasan fisik
dan mental pendiri pensantren itu
dapat membuat pesantren menjadi
kurang responsif terhadap
perkembangan-perkembangan
yang terjadi dalam masyarakat.
Apabila hal ini tidak selesaikan,
maka, pesantren akan dianggap
tidak mampu lagi menghadapai
tantangan-tantangan yang dibawa
oleh kemajuan jaman dan
modernisasi. Kekurangan inilah
yang membuat terjadinya
kesenjangan antara pesantren
dengan "dunia luar".
Oleh sebab itu perubahan harus
dilakukan, dalam arti mengejar
ketinggalan yang telah. Namun
demikian, Nurcholish mengingatkan
sejumlah hal mengenai hal ini,
misalnya perubahan tersebut harus
dimulai dari "orang dalam"
pesantren itu sendiri.
Kedua, perubahan sering tidak dapat
dilakukan secara radikal. Akibtanya,
perubahan dilakukan secara
perlahan. Ini dapat dimulai dari
perubahan kurikulum di pesantren,
yang tidak hanya mengemban
fungsi relijius tetapi juga keilmuan.
Inilah yang diistilahkan oleh
Nurcholish sebagai amanat ganda
pesantren, yakni amanat agama
serta amanat keilmuan. Keduanya
harus dilakukan secara serentak dan
proporsional sehingga tercapai
keseimbangan yang diharapkan.
Untuk itulah buku ini, seperti yang
ditulis oleh Prof Malik Fajar dalam
buku ini, menawarkan sebuah
sintesa antara perguruan tinggi dan
pesantren (hal. 121). Sintesa
keduanya diharapkan dapat
menjawab kebutuhan dua jenis
pendidikan tersebut, yakni
perguruan tinggi yang rasional
namun miskin kedalaman spiritual,
dan pesantren yang kuat dengan
tradisi keagamaan, namun tertatih-
tatih di bidang keilmuan.
Dengan membaca buku ini,
pembaca dapat diajak untuk kembali
memikirkan dan membenahi
pesantren. Dengan upaya ini
pesantren tidak lagi dianggap sebagi
pilar pendidikan yang "nomor dua",
tetapi justru menjadi ujung tombak
pemberdayaan masyarakat.
Dengan begitu pesantren dapat
diharapkan untuk memberikan
solusi atas masalah-masalah yang
seakan tidak berhenti menghujani
bangsa Indonesia.***
Baca Selengkapnya... - Meluruskan PersoalanMendasar Pesantren

Meluruskan PersoalanMendasar Pesantren

Judul: Bilik-bilik Pesantren, Sebuah
Potret Perjalanan
Penulis: Nurcholish Madjid
Penerbit: Dian Rakyat dan
Paramadina
Terbit: 2010
Tebal: xxx + 162 halaman
Harga: Rp. 45.000
Pesantren sebagai salah satu pilar
pendidikan modern Islam, tengah
menghadapi tantangan yang tidak
ringan. Ia harus dapat menjawab
berbagai persoalan bangsa di tengah
kemajuan di berbagai bidang yang
tidak mungkin dihindari.
Itu sebabnya pesantaren, yang
selama ini memiliki stigma sebagai
lembaga pendidikan yang
konservatif dan cenderung anti-
modern, harus segera melakukan
perbaikan. Hal tersebut bertujuan
agar langkah pesantren dapat
sederap dengan kemajuan, dengan
tetap menjadi benteng nilai relijius.
Buku yang ditulis oleh Nurcholish
Madjid ini ingin mengungkapkan
masalah-masalah pokok dunia
pesantren di Indonesia. Masalah-
masalah itulah yang menurut
Nurcholish menjadikan pesantren
sulit untuk menemukan solusi
masalah-masalah bangsa.
Salah satu masalah pokok yang
diungkapkan Nurcholish adalah
lemahnya visi dan tujuan pendirian
pesanteran. Menurutnya, banyak
pesantren yang gagal merumuskan
tujuan dan visinya secara jelas. Ini
ditambah dengan kegagalan dalam
menuangkan visi tersebut pada
tahapan rencana kerja ataupun
program.
Akibatnya, sebuah pesantren hanya
berkembang sesuai dengan
kepribadian pendirinya, dengan
dibantu oleh kiai maupuin
pembantu-pembantulainnya. Tidak
mengherankan jika semangat
pesantren adalah semangat
pendirinya.
Bagi Nurcholish, keterbatasan fisik
dan mental pendiri pensantren itu
dapat membuat pesantren menjadi
kurang responsif terhadap
perkembangan-perkembangan
yang terjadi dalam masyarakat.
Apabila hal ini tidak selesaikan,
maka, pesantren akan dianggap
tidak mampu lagi menghadapai
tantangan-tantangan yang dibawa
oleh kemajuan jaman dan
modernisasi. Kekurangan inilah
yang membuat terjadinya
kesenjangan antara pesantren
dengan "dunia luar".
Oleh sebab itu perubahan harus
dilakukan, dalam arti mengejar
ketinggalan yang telah. Namun
demikian, Nurcholish mengingatkan
sejumlah hal mengenai hal ini,
misalnya perubahan tersebut harus
dimulai dari "orang dalam"
pesantren itu sendiri.
Kedua, perubahan sering tidak dapat
dilakukan secara radikal. Akibtanya,
perubahan dilakukan secara
perlahan. Ini dapat dimulai dari
perubahan kurikulum di pesantren,
yang tidak hanya mengemban
fungsi relijius tetapi juga keilmuan.
Inilah yang diistilahkan oleh
Nurcholish sebagai amanat ganda
pesantren, yakni amanat agama
serta amanat keilmuan. Keduanya
harus dilakukan secara serentak dan
proporsional sehingga tercapai
keseimbangan yang diharapkan.
Untuk itulah buku ini, seperti yang
ditulis oleh Prof Malik Fajar dalam
buku ini, menawarkan sebuah
sintesa antara perguruan tinggi dan
pesantren (hal. 121). Sintesa
keduanya diharapkan dapat
menjawab kebutuhan dua jenis
pendidikan tersebut, yakni
perguruan tinggi yang rasional
namun miskin kedalaman spiritual,
dan pesantren yang kuat dengan
tradisi keagamaan, namun tertatih-
tatih di bidang keilmuan.
Dengan membaca buku ini,
pembaca dapat diajak untuk kembali
memikirkan dan membenahi
pesantren. Dengan upaya ini
pesantren tidak lagi dianggap sebagi
pilar pendidikan yang "nomor dua",
tetapi justru menjadi ujung tombak
pemberdayaan masyarakat.
Dengan begitu pesantren dapat
diharapkan untuk memberikan
solusi atas masalah-masalah yang
seakan tidak berhenti menghujani
bangsa Indonesia.***
Baca Selengkapnya... - Meluruskan PersoalanMendasar Pesantren

LINK DAN BANNER TEMAN


1. Belajar Cari Tau 
2.Elang Antarnusa
3.Oce Modif blog
4.Hari Setiawan 
                                                          5.Tutorial Blog
Baca Selengkapnya... - LINK DAN BANNER TEMAN

Tips menghemat pulsa telepon

15 Agustus 2009

Tips menghemat pulsa telepon
Penggunaan pulsa telepon khususnya untuk hubungan jarak jauh/ SLJJ sangat mahal. Apalagi pada siang hari. PSTN menerapkan tarif 125 % lebih mahal. Untuk mensiasati agar pulsa tidak terlalu tinggi bisa dengan memanfaatkan selular bebar roaming untuk berkomunikasi. Tetapi ini bisa diterapkan untuk keluarga atau yang mobilitasnya tinggi.

Misalnya, jika bertempat tinggal di Jakarta, mempunyai keluarga (istri, anak) di Surabaya gunakan saja selular bebas roaming (sekarang ini hampir semua produk pra bayar sudah bebas roaming). Berikan nomor selular yang home base nya Jakarta kepada keluarga di Surabaya. Gunakan telepon PSTN (Flexi, Telkom, Ratelindo) dari Jakarta untuk menghubungi nomor selular yang telah diberikan pada keluarga. Dengan cara ini maka akan dikenakan pulsa lokal oleh provider PSTN karena memang yang dihubungi nomor Jakarta dari Jakarta.

Catatan : Jangan menghubungi dari wartel, karena umumnya wartel menerapkan tarif yang sama untuk seluruh nomor selular baik nomor lokal maupun nomor non lokal yaitu sebesar tarif tertinggi hubungan SLJJ ke nomor selular.
Baca Selengkapnya... - Tips menghemat pulsa telepon

14 Agustus 2009

Baca Selengkapnya... -

TUKERAN LINK

11 Agustus 2009




Jika anda menyukai blog ini, silahkan copy kode html dibawah ini kedalam blog/situs anda, atau jika kurang suka logo, cukup teks link saja. Silahkan beri tahu saya jika anda sudah melakukannya, blog/situs kamu akan saya link balik secepatnya





dan jangan lupa memasukan
- Nama blog sobat
- Alamat Web sobat
ke dalam kotak komentar cbox




Kolom blog tutorial




Link Saya















Baca Selengkapnya... - TUKERAN LINK

Cara Mengedit Foto dengan Adobe photoshop

02 Agustus 2009

Membuat Efek Photo Blur
di Photoshop...
Langkah – Langkah:
Langkah 1
Buatlah Project baru
File > New
Tentukan Panjang dan Lebar
yang diinginkan (pixels)
Tentukan juga berapa Resolusi
yang dibutuhkan (pixel/cm)
Tentukan juga Color mode
(default RGB)
Berapa Bit yang dibutuhkan
(default 8 Bit)
Tentukan sendiri Background
Contents (default White)
tutorial photoshop
Lalu OK
Disini kita menggunakan
Panjang 1024px ; Lebar 768px ;
serta resolusi 72px/cm
Sebaiknya sesuaikan dengan
resolusi gambar yang akan
diedit
Langkah 2
Lalu Buka Project yang akan di
edit
File > Open
Langkah 3
Setelah Project tersedia,
suntinglah sehingga menjadi
bahan yang siap untuk edit …
Maksud sunting disini adalah
pindahkan gambar ke layer baru
(untitled-1) dengan
menggunakan Move Tool
Langkah 4
Seleksi bagian mana saja yang
ingin di edit pakai Magic Lasso
Tool yang ada di toolbar atau
Ctrl+L untuk mengaktifkannya,
tutorial photoshop
Langkah 5
Edit Gambar, secara hati-hati
(disini penulis menyeleksi
bagian background gambar)
Tips: setelah menyeleksi gambar
anak2 di contoh bawah,
gunakan perintah inverse agar
proses seleksi terbalik dari
menyeleksi gambar anak ke
gambar pemandangan/
background
tutorial photoshop
Langkah 6
Jika ingin membuat garisnya
rata, gunakana Ctrl + Atl + D dan
tentukan berapa radius yang
dibutuhkan ….
tutorial photoshop
Catatan: Semakin besar radius,
semakin besar pula jarak yang
akan di blur ….
Langkah 7
Gunakan Filter – Blur – Radial
Blur... Sesuaikan blur yang akan
digunakan….
tutorial photoshop
Langkah 8
Tampilan Radial Blur, tentukan
apa saja yang kita ingin
gunakan, dengan catatan semua
tool yang ada dari tampilan ini
mempunyai efek yang berbeda-
beda …..
tutorial photoshop
Hasilnya seperti ini,
menggunakan blur Method:
Zoom – Quality: Best – Amount:
50
tutorial photoshop
Jika ingin melihat hasilnya
secara detail, gunakan Ctrl+F
untuk melihat hasilnnya
Langkah 9
Jika sudah selesai gunakan Ctrl
+H untuk melepaskan/
menghilangkan pointer
Hasil Akhir, seperti ini
tutorial photoshop
Selamat mencoba.....
Terima Kasih
Semoga Bermanfaat... ^_^
Baca Selengkapnya... - Cara Mengedit Foto dengan Adobe photoshop

Puisi-puisi dari RuangKontemplatif

01 Agustus 2009

Judul: Hujan Meminang Badai
Penulis: Tri Astoto Kodarie
Tebal: xxvii + 122 halaman
Penerbit: Akar Indonesia,
Yogyakarta,
Terbit: Maret 2007
Sebuah puisi lahir dari hasil
perenungan yang mendalam
seorang penyair. Di sini terjadi
semacam interkasi antara si penyair
dengan dunia di sekitarnya. Hasilnya
dapat berupa kegelisahan maupun
pertanyaan-pertanyaan
kontemplatif. Begitu kesan yang
didapat ketika membaca kumpulan
puisi Tri Astoto Kodarie, Hujan
Meminang Badai.
Sejumlah puisi dalam antologi ini
memperlihatkan bagaimana
penyairnya melakukan perenungan
dalam kesunyian. Jika syair-syair
dalam antologi ini dibaca dengan
seksama, kesunyian itu jelas
tertangkap lewat ungkapan-
ungkapan yang digunakan oleh
penyairnya. Lihat saja kutipan puisi
Di Pelataran Mesjid Demak ,
… .akhirnya kutemukan juga/ muara
kelelahan ini/ keheningan yang
menggelayut/ di permukaan embun
dinihari.
Penggunaan “keheningan yang
menggelayut” misalnya,
memperlihatkan bagaimana sang
penyair melakukan penjarakan dari
hiruk-pikuk dunia, hadir secara total
di ruang hening, dan mulai
berdialog dengan dirinya sendiri.
Menariknya, dialog yang terjadi
antara penyair dengan dirinya
sendiri tidak terperosok dalam
keasyikan dengan “dunia batin”-nya
sendiri, tetapi justru menyajikannya
lewat representasi lain sehingga
syair lebih kaya dengan metafor,
dan tak jarang menambah daya
magis maupun kekuatan dari
sebuah puisi. Kata-kata yang
dimaksud misalnya “senjaMu”,
“tanah basah”, “daun-daun gugur”,
“ilalang pantai”, “sayap-sayap air”,
“bau bunga-bunga rumput”,
ataupun “burung-burung hitam
yang menukik”.
Kesunyian, keheningan, dan sepi,
dari puisi Trie Astoto Kodarie juga
tampak pada puisi Surat-surat yang
Tertulis Setelah Senja, Yang Ada
Hanyalah Suara Malam, Ziarah 2,
Sajak Gelombang, atau Meneteslah
Air Mata Sunyi.
Di samping itu, perenungan Trie
Astoto Kodarie menyeret kita pada
titik ekstrem, yakni kematian dan
perjumpaan dengan Tuhan. Ini
bukan sikap eskapis dalam
menghadapi persoalan-persoalan
kehidupan, tetapi lebih kepada upaya
membawa pembaca kepada suatu
titik perenungan diri untuk
menjawab posisi eksitensi
kemanusiannya. Dalam sajak
Mengantar Jenazah di Saat Hujan
Tengah Hari misalnya, Tri Astoto
menulis, ….saat sukma-sukma
mereke bersimpuh/ jasad tergolek
ke liang tanah basah/penuh misteri
antara dua alam/ esok pun kita bakal
melewati jajaran pohon kamboja/
yang dingin dan kaku/ bersama
sahabat-sahabat setia yang akan
mengantarnya//.
Puisi ini dapat dikatakan
“ menghentak”, sebab ia mengajak
pembaca untuk ikut merasakan
aroma kematian itu, memosisikan
diri pembaca sebagai “si mati”, dan
menghadirkan suasana magis
kematian. Ada semacam usaha
untuk melontarkan pembaca dari
ruang dimana ia berada,
menyuguhkan alienasi, dan
menyeret ke “zona tak nyaman”.
Dengan begitu renungan-renungan
yang lebih dalam lagi mengenai
keberadaan diri dapat lebih dicapai.
Sementara itu perjumpaan dengan
Tuhan, saat eksistensi manusia dan
keangkuhannya seketika meluluh,
terlihat dalam puisi Di Pelataran
Mesjid Demak. Di dalam puisi ini
terlihat bagaimana manusia menjadi
tidak ada artinya di hadapan kuasa
Tuhan. Itu sebabnya hanya di
hadapanNya saja manusia bisa
berkeluh kesah, mengadukan nasib
dan persoalan hidup. Di sinilah titik
perhentian ekstrem manusia.
Tengok saja penggalan dari puisi ini,
… biarkan di sini aku mengeja ayat-
ayatmu/ suaraku telah parau untuk
setia memanggilMu/ air mataku
telah kering/ menumpahkan seluruh
riwayat dan perjalanan/.
Perenungan-perenungan Tri Astoto
bergerak sedemikian rupa dengan
sejumlah titik pencapaian, seperti
ketakberdayaan dalam menghadapi
sesuatu, dan kegelisahan ketika telah
terjadi sesuatu yang tidak berjalan
sebagaimana mestinya, sebutlah
ketika ia melihat guru yang bertahan
dengan idealisme, atau nelayan
yang juga tidak kuasa mengubah
nasib meskipun telah bekerja keras.
Di sini Tri Astoto tidak melakukan
gugatan, protes, atau menuntut
perubahan secara terbuka, tetapi
justru mengajak pembaca untuk
merenungkan realitas yang
dicatatakan dalam puisi-
puisinya.Tengok saja puisi sajak
Anak-anak yang Tidur Gelisah.
Dalam puisi ini Tri Astoto menulis,
… .setetes embun malam di kaca
jendela/ menyaksikan wajah-wajah
yang sarat beban/ wajah anak-anak
merdeka yang tak merdeka/ wajah-
wajah anak zaman/ yang
diterlantarkan zaman/
mengingatnya, air mataku jatuh tak
tertahan//.
Pada puisi tersebut jelas bagaimana
Trie Astoto bereaksi atas apa yang
telah ia cermati dari keadaan di
lingkungan sekitarnya, yakni
kepahitan-kepahitan hidup yang
dialami oleh orang-orang di
sekitarnya. Reaksi serupa sangat
kental dalam puisi-puisi Siang
Namaku, Catatan Harian Seorang
Guru, Tembang Nelayan Dini Hari,
dan Sajak dari Perkampungan
Nelayan.
Menyimak 115 sajak Tria Astoto
Kodarie yang ditulis pada rentang 27
tahun ini, dapat dilihat bagaimana ia
memiliki kedekatan dengan alam,
terutama laut atau danau. Tampak
ada semacam ekstase dan
ketersentuhan pengalaman puitik
ketika ia mengamati--ataupun
melakukan penyatuan diri--dengan
alam.
Dari proses inilah lahir syair-syair
yang sarat metafora. Simak saja
puisi-puisi berjudul Biarkan Layar
Berkibar, Perahu, Mata Laut, Kapal
yang Merapat di Dermaga, Selat
Makasar, atau Suatu Malam di Atas
Perahu.
Dalam puisi Suatu Malam di Stas
Perahu contohnya, Tri Astoto
menulis ….biarkan aku menyusuri
pantai/ dengan perahu dan sisa
badai/ menanti isyarat angin dan
suara/ yang setia mengusap kening
jiwa//. Sementara itu, dalam puisi
Selat Makassar ia
menulis,..kuhanyutkan rindu di selat
ini/ mendung yang letih menambah
perih/ tak ada lagi tembang meniti
buih/ hanya kerlip lampu para
nelayan/ dipermainkan ombak dan
cuaca//.
Secara garis garis besar, puisi-puisi
Tri Astoto Kodarie membawa
pembaca pada ruang interpretasi
yang lebar. Banyak makna yang
bisa digali dari setiap teks yang ada.
Dengan begitu segala perenungan,
hasil refleksi, dan pergulatan batin
yang ada tidak berdiam sampai satu
titik saja, tetapi bergerak dan
mengembara lebih bebas di dalam
ruang pemaknaan
pembacanya.****
Baca Selengkapnya... - Puisi-puisi dari RuangKontemplatif