Terancamnya Sungai,TerancamnyaPeradaban

18 Agustus 2010

Judul: Jelajah Musi, Eksotika Sungai
di Ujung Senja
Penulis : Tim Kompas
Penerbit: Penerbit Buku Kompas
Tahun: I, April, 2010
Tebal: xxiv + 376
Harga: Rp. 89.000
Sungai tidak hanya merupakan jalur
perdagangan, tetapi juga tempat
berawalnya peradaban. Jika
kemudian sungai mengalami
kerusakan parah, itulah awal
meredupnya sebuah peradaban.
Sungai Musi yang meliuk di bumi
Sumatera Selatan, sejak lama
digunakan sebagai jalur
perdagangan. Aliran sepanjang 720
kilometer ini seakan menjadi denyut
nadi perekenomian sekaligus
kehidupan masyarakat Sumsel.
Namun, kejayaan Musi di masa lalu
terancam hilang. Pasalnya, sungai
tersebut perlahan-lahan tengah
mengalami kerusakan akibat tangan
manusia yang selama berabad-abad
justru hidup dan memperoleh
berkah dari sungai tersebut.
Dari laporan yang disampaikan
dalam buku ini, kerusakan sungai
Kota Palembang itu sudah terjadi
sejak di hulu sungai. Sayangnya,
upaya untuk mengatasinya
dirasakan lambat. Akibatnya,
kerusakan tersebut semakin parah
dan terancam tidak dapat
tertanggulangi.
Salah satu masalah yang dihadapi
oleh sungai Musi adalah erosi. Erosi
ini disebabkan oleh tidak
memadainya konservasi atau
pelestarian tanah. Hal inilah yang
terjadi di daerah Tanjung Raya,
Kabupaten Empat Lawang.
Di wilayah Tanjung Raya, tanaman
kelapa sawit ditanam tanpa pohon
pelindung karena pohon-pohon
pelindung sudah ditebang.
Sedangkan akar pohon sawit tidak
mampu menahan erosi maupun air.
Akibatnya sungai Musi meluap saat
curah hujan meninggi.
Erosi seperti ini juga mengakibatkan
pendangkalan di beberapa wilayah
sepanjang aliran sungai Musi.
Pendangkalan inilah yang membuat
kapal-kapal besar tidak dapat lagi
melayari sungai Musi. Padahal
sejumlah kapal besar dibutuhkan
untuk membawa minyak mentah
dari kilang minyak yang telah
diambil alih dari perusahaan minyak
asing.
Hal tersebut semakin parah pada
musim kemarau. Ketika musim
kemarau tiba, tongkang yang
membawa barang dagangan pun
sulit untuk membawa barang
dagangan ke tempat yang dituju.
Padahal tongkang pembawa barang
dagangan ini sangat membantu
petani maupun warga yang berada
di tepi sungai Musi.
Pencemaran yang diakibatkan oleh
limbah rumah tangga menjadi
masalah lain yang membebani
sungai Musi. Hal ini terjadi seiring
semakin banyaknya rumah yang
dibangun dengan membelakangi
sungai. Rumah yang dibangun
membelakangi sungai potensial
memperburuk kualitas air sungai
karena limbah rumah tangga.
Tinggal cerita
Hal menarik lain dari sungai Musi
adalah DAS (Daerah Aliran Sungai)
Lematang yang merupakan salah
satu anak sungai Musi. Dilaporkan,
hingga tahun 1970-an sungai ini
masih menjadi urat nadi kehidupan
penduduk. Namun karena degradasi
di bidang sosial-ekonomi, penduduk
harus hengkang ke Jawa untuk
menjadi buruh pabrik di pinggiran
Jakarta.
Padahal menurut sejarah, pada
pertengahan abad ke-19, di
sepanjang DAS Lematang banyak
ditemukan tanaman kapas. Bahkan,
menurut sumber sejarah, setengah
dari produksi kapas Karesidenan
Palembang dihasilkan dari daerah
tersebut. Namun hal itu kini hanya
tinggal cerita.
Apa yang disajikan dalam buku ini
adalah gambaran, potensi sungai
yang besar seringkali hilang hanya
karena ketidakmengertian
masyarakat mengenai arti penting
keberadaan sungai. Padahal
Indonesia memiliki banyak sungai
yang potensial untuk menggerakkan
perekonomian dan memberikan
kesejahteraan bagi masyarakat.
Tampaknya, pemerintah pun harus
memberikan perhatian yang lebih
banyak terhadap kondisi sungai di
Indonesia. Regulasi pemerintah
yang tepat serta dijalankan dengan
konsisten, akan membantu
terpeliharanya kehidupan dan
peradaban di sepanjang sungai.***