Tampilkan postingan dengan label kumpulan resensi buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kumpulan resensi buku. Tampilkan semua postingan

Catatan KegelisahanSeorang Pendaki

19 Agustus 2010

Judul: Norman Edwin, Catatan
Sahabat Sang Alam
Penulis: Norman Edwin
Penerbit: Kepustakaan Populer
Gramedia
Tahun: Mei, 2010
Tebal: xvi + 423 Halaman
Harga: Rp. 65.000
Buku ini tidak lain merupakan
laporan Norman Edwin ketika
berusaha menapakkan kaki berbagai
puncak tertinggi di dunia, lembah-
lembah penuh misteri, hingga
wilayah-wilayah yang masih
menyisakan persoalan.
Namun Norman tidak hanya
menuliskan kenangan indah saat ia
berada di tempat-tempat tersebut,
tetapi ia juga melukiskan
ketegangan, saat-saat maut
mengintai, hingga masalah-masalah
kronis yang “menghinggapi”
berbagai tempat yang
disambanginya.
Di tahun 1980-an, Norman Edwin
bukan lagi "anak bawang" dalam
jagat pendaki gunung.
Pengalamannya mendakai berbagai
tempat yang jarang dikunjungi
manusia telah menempatkannya
menjadi salah satu pendaki andalan
dari Indonesia.
Kehebatannya menuliskan
pengalaman selama melakukan
pendakian maupun mengikuti
ekspedisi, telah membuat lelaki yang
dijuluki Beruang Gunung tersebut,
dipercaya untuk membuat berbagai
laporan di sejumlah media cetak di
Indonesia.
Jika tulisan-tulisan dalam buku ini
diamati, ternyata Norman tidak
hanya bercerita sesuatu yang
bersifat personal. Ia tidak berpretensi
untuk menunjukkan superioritasnya
sebagai sosok yang sanggup
menjawab keganasan alam. Namun
ia juga berusaha untuk
memperlihatkan berbagai
kecemasan dan keprihatinannya
melihat alam yang semakin rusak
oleh tangan manusia.
Pada bagian awal buku ini misalnya,
Norman sudah memperlihatkan
bahwa padang salju yang
menyelimuti Puncak Jayawjaya
semakin mengalami penyusutan.
Penyusutan jumlah dan luas selimut
es ternyata tidak hanya terjadi pada
Puncak Jayawijaya, tetapi juga
sejumlah puncak gunung es yang
berada di belahan dunia lain.
Berbagai teori dan spekulasi
dilontarkan untuk menjawab
fenomena tersebut. Namun tidak
satu pun yang dapat memberikan
penjelasan yang memuaskan.
Tetapi, kini, sekitar 30 tahun
kemudian, ada jawaban yang
mungkin membuat semua pihak
puas, yakni pada saat itu proses
pemanasan global sudah dimulai.
Proses itu pulalah yang membuat
gunung es di kutub utara mulai
lumer.
Keprihatinan Norman atas rusaknya
alam, tercermin juga dalam
tulisanya mengenai Situ Aksan (situ
berarti danau dalam bahasa Sunda),
sebuah danau sisa peninggalan
Bandung purba. Hasil penelusuran
Norman memperlihatkan bahawa
Situ Kasan yan pada tahun 1940-an
masih seluas lima hektar persegi,
namun 40 tahun kemudian
menyusut hingga seluas satu hektar
saja.
Lagi-lagi, kerusakan ini terjadi akibat
ulah manusia yang membebani
danau tersebut, mulai dari
pembangunan pemukiman di
sekitar danau hingga pencemaran
yang berasal dari bangunan yang
berada di sekitar danau tersebut.
Lalu, seperti kisah sedih tentang
alam lainnya, Situ Aksan pun akan
tinggal cerita saja.
Tidak hanya soal kondisi alam,
dalam buku ini juga dimuat tulisan
Norman mengenai sejumlah situs
candi yang dirusak oleh orang yang
tidak bertanggungjawab. Dimuatnya
tulisan ini tentu saja menunjukkan
bahwa persoalan seperti ini
memang masih terjadi dan jelas-
jelas menuntut penyelesaian.
Sayangnya, upaya penyelesaian
tersebut belum maksimal.
Catatan lain dari buku ini adalah,
tidak terdapatnya keterangan pada
foto yang dimuat. Padahal, sebuah
foto justru tidak berbicara apa-apa
ketika disuguhkan tanpa caption
maupun teks. Alhasil, foto-foto
dalam buku ini tidak begitu terasa
faedahnya sebagai pelengkap isi
tulisan. Sayang sekali.
Namun begitu, diterbitkannya buku
ini patut mendapat apresiasi. Tentu
bukan sekadar untuk menunjukkan
heroisme ataupun keberhasilan
manusia “menaklukkan” alam, tetapi
juga sebagai sumber inspirasi bagi
banyak orang muda untuk lebih
peduli pada kondisi alam yang kian
memprihatinkan.
Norman Edwin memang telah tiada.
Ia kehilangan nyawanya ketika
melakukan ekspedisi menuju
puncak Aconcagua, di Argentina
pada tahun 1992. Namun berkat
tulisan-tulisannya yang dikumpulkan
dalam buku ini, pembaca masih
dapat ikut merasakan kedahsyatan
alam, sekaligus mendengarkan
senandung sedih alam yang
digerogoti oleh keserakahan
manusia.***
Baca Selengkapnya... - Catatan KegelisahanSeorang Pendaki

Pers di BawahBayang-bayangKekuasaan

Judul: Trilogi Insiden
Penulis : Seno Gumira Adjidarma
Penerbit: Kepustakaan Populer
Gramedia, Jakarta
Tahun: I, April, 2010
Halaman: 452 halaman
Sastra tidak sama dengan jurnalistik.
Namun, ketika jurnalistik mengalami
keterbatasan dalam
mengungkapkan realitas, maka
sastralah yang dapat
menggantikannya. Itulah yang ingin
disampaikan lewat buku ini.
Trilogi Insiden terdiri dari tiga buah
buku, yakni Saksi Mata, Jazz Parfum
dan Insiden, serta Ketika Jurnalisme
Dibungkam, Sastra Bicara.
Semuanya pernah terbit ketika Orde
Baru masih berkuasa. Seperti
diketahui, pada masa itu, penguasa
begitu membatasi gerak pers.
Pembatasan-pembatasan inilah
yang membuat pers tidak bebas
dalam mengungkapkan fakta-fakta
yang ditemui secara terbuka.
Apalagi fakta tersebut berbenturan
dengan kepentingan kekuasaan.
Jika pers mencoba untuk tetap keras
kepala, ancamannya tidak
tanggung-tanggung, yakni
pencabutan SIUPP (Surat Ijin usaha
Penerbitan Pers) alias breidel.
Kondisi inilah yang membuat pers
tidak dapat menjalankan tugasnya
secara maksimal.
Itulah latar belakang mengapa ada
kebutuhan untuk mengungkapkan
fakta lewat sastra. Seperti yang
terlihat pada bagian pertama buku
ini, Saksi Mata. Penulis buku ini,
Seno Gumira Adjidarma, tampak
ingin memperlihatkan apa yang
terjadi di Timor Timur terutama
sekitar kekerasan yang dilakukan
militer terhadap masyarakat sipil
pada insiden Dili di penghujung
tahun 1991.
Tentu saja catatan kekerasan seperti
itu tidak pernah bisa diakses lewat
media yang beredar di Indonesia
kala itu. Sebab pemberitaan
peristiwa yang mendapat sorotan
internasional itu dapat dicap sebagai
berita yang mengganggu stabilitas
nasional.
Kecenderungan yang sama juga
tampak dari bagian kedua buku ini,
yaitu Jazz, Parfum, dan Insiden. Jika
dibaca selintas, kumpulan cerita
pendek dalam bagian ini seperti sulit
untuk diterjemahkan. Sulit sekali
mencari “pintu gerbang” yang
menghubungkan antara musik jazz,
parfum dan insiden.
Namun jika pembaca menelaahnya
secara lebih teliti, maka hubungan
itu akan lebih jelas. Jazz dalam buku
ini bukan sekadar musik. Di sini jazz
adalah simbol kegelapan, kepedihan,
dan duka yang menyayat-nyayat.
Lalu, tiupan terompet Miles Davis
bukan sekadar alunan nada, namun
juga seruan kepedihan, alunan
kisah-kisah sedih orang-orang yang
tersingkirkan. Hal yang lebih penting
lagi, Miles Davis meninggal 48 hari
sebelum insiden penembakan
terhadap orang-orang tidak
bersenjata itu terjadi (hal. 204). Kita
sudah dapat menduga, teks ini
merujuk kepada insiden Dili.
Pada bagian tiga buku ini, Ketika
Jurnalisme Dibungkam, Sastra
Harus Bicara, Seno menuliskan
sejumlah esai berkaitan dengan
dunia jurnalistik. Sebagian berisi
pengalamannya ketika menjadi
pemimpin redaksi di majalah Jakarta
Jakarta.
Dalam esai-esai tersebut ia
mengisahkan ketakutan yang
dialami pers bahkan telah memaksa
pemimpin grup majalah tempatnya
bekerja melakukan intervensi pada
kebijakan redaksi. Pemberitaan yang
dilakukan Jakarta Jakarta dianggap
berlebihan, sehingga sejumlah
orang harus “dipindahkan” ke media
lain dalam grup yang sama.
Kini, di tengah iklim pers yang lebih
bebas, penerbitan Trilogi Insiden
memang terkesan tidak lagi
kontekstual. Namun ada dua hal
yang mesti dicatat. Pertama,
penerbitan buku ini mengingatkan
bahwa ada sejarah kelam yang
dialami pers maupun masyarakat
sipil oleh kekuasaan.
Kedua, kebebasan pers pada masa
ini tetap terancam. Lemahnya
undang-undang dan kapitalisasi
media adalah ruang-ruang yang
masih dapat digunakan untuk
melemahkan keberadaan pers.***
Baca Selengkapnya... - Pers di BawahBayang-bayangKekuasaan

Absurditas Pernikahandalam MasyarakatKontemporer

Judul : Sudesi (Sukes dengan Satu
Istri)
Penulis : Arswendo Atmowiloto
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama,
Jakarta
Tebal : 456 halaman
Tahun : Januari 2010
Lembaga pernikahan yang sering
dianggap sakral ternyata mengalami
pereduksian makna dalam
masyarakat kontemporer.
Pernikahan yang sarat dengan nilai-
nilai kesetiaan, pengabdian dan serta
pengorbanan, kemudian ditaburi
perselingkuhan, kebohongan serta
berbagai kepalsuan.
Persoalannya kemudian, masihkah
ada orang yang dapat sanggup
mempertahankan pernikahan yang
serba suci itu manakala lingkungan
sekitarnya seolah-olah
membenarkan terjadinya berbagai
bentuk pengkhianatan. Lebih
ekstrim, apakah lembaga
perkawinan masih layak
dipertahankan sebagai wadah
penyatuan dua individu, baik secara
formal ataupun agama
Novel Sudesi (Sukses dengan Suatu
Istri) tampaknya ingin memberikan
sebuah lapangan perenungan
mengenai persoalan-persoalan
tersebut. Lewat pengalaman dan
sepak terjang tokoh-tokohnya,
Sudesi yang ditulis oleh Arswendo
Atmowiloto, memperlihatkan
kecenderungan ini.
Sebut saja tokoh Ibu Sukmono, istri
Jati Sukmono penggagas Sudesi,
yang kemudian berselingkuh
dengan seorang fotografer ternama
ketika suaminya tengah meringkuk
di dalam penjara. Perselingkuhan
yang diawali ketika Ibu Sukmono
meminta untuk dipotret dalam pose
tanpa busana itu, ternyata dapat
terjadi begitu saja tanpa diakhiri rasa
penyesalan maupun penghakiman
yang berujung kepada akibat-akibat
yang merepresentasikan “hukuman
Tuhan” terhadap mereka.
Tentu saja novel ini tidak ingin
menunjukkan bahwa
perselingkuhan merupakan sesuatu
yang pantas ditiru ataupun sesuatu
yang bersifat relatif. Novel ini juga
tidak berusaha mengonstruksi
sebuah pemikiran bahwa
perselingkuhan adalah sesuatu yang
salah dalam pandangan relijiusitas.
Sebaliknya, pembaca dibiarkan
untuk menikmati alur cerita
sebagaimana adanya, dan membuat
penilaian tersendiri atasnya.
Beberapa kisah tokoh lainnya dalam
novel ini juga menunjukkan bahwa
pernikahan telah telah menjadi
sesuatu yang absurd, misalnya saja
kisah Bambang, seorang wartawan
yang mendapat kesempatan untuk
menuliskan biografi Ismi Patria, istri
anak bungsu Tunjung Suanta,
sekaligus istri dari Indrawan,
seorang pengusaha kaya yang
sanggup memberikan apa saja.
Tidak terjelaskan apa yang
sebenarnya terjadi dengan
pernikahan Ismi, yang akrab
dipanggil dengan Ibu Ais, dengan
Indrawan. Namun Indrawan
menyetujui saja ketika Ibu Ais ingin
membuat sebuah biografi dan
menunjuk Bambang, saeorang
wartawan, untuk menuliskan
biografi itu.
Maka, dengan segala fasilitas yang
mewah yang disiapkan oleh Bu Ais
sendiri, Bambang berkesempatan
masuk ke dalam kehidupan Ibu Ais.
Ia dapat mengikuti segala aktivitas
Ibu Ais, mengamati perilakunya,
melakukan wawancara, dan bahkan
jatuh cinta kepadanya.
Dari sinilah dimulai sebuah
perselingkuhan dengan perjanjian di
atas kertas antara Ibu Ais dan
Bambang. Sebelum memulai
perselingkuhan, Bambang diminta
untuk memenuhi sejumlah
persyaratan, termasuk syarat
kesehatan yang harus dibuktikan
dengan surat keterangan dari
dokter. Bagi Bambang ini adalah
sesuatu yang aneh, tidak masuk akal
dan terlalu rumit untuk sebuah
perselingkuhan. Anehnya lagi,
perselingkuhan ini dilakukan dengan
persetujuan suami Ibu Ais.
Semua kisah dalam novel ini
memperlihatkan bahwa penikahan
adalah sesuatu yang pelik, dan tidak
gampang dilakukan dalam dunia
kontemporer. Pernikahan yang
dijalani dapat saja menjadi lembaga
yang sakral, namun pengkhianatan
terhadapnya sangat terbuka lebar.
Tinggal bagaimana seorang individu
memahami secara benar hakikat
pernikahan, dan konsisten dengan
janjinya untuk selalu setia pada
psangannya.***
Baca Selengkapnya... - Absurditas Pernikahandalam MasyarakatKontemporer

Kisah Bandung TempoDoloe

Judul: Semerbak Bunga Di Bandung
Raya
Penullis: Haryoto Kunto
Penerbit Granesia, Bandung
Tahun: 1986
Tebal: 1016 halaman
Buku ini tergolong langka dan dicari
oleh banyak kolektor buku. Tidak
mengherankan jika ada kolektor
yang siap melepas buku setebal
lebih dari 1.000 halaman ini dengan
dengan harga antara 800 ribu
hingga 1,4 juta rupiah.
Buku ini memang menarik.
Penulisnya, almarhum Haryoto
Kunto, dosen planologi Institut
Teknologi Bandung, tampak banyak
mengetahui seluk-beluk Kota
Bandung, tidak hanya dari sisi tata
letak kota, tetapi juga dari sisi
sosiologis.
Hasilnya, buku Semerbak Bunga di
Bandung Raya, menjadi sangat
berisi. Dari sini kita tidak hanya dapat
melihat kisah Bandung Tempo
Doloe, tetapi juga memikirkan
bagaimana seharusnya Kota
Bandung dikembangkan.
Hal ini diperlukan lantaran
kecenderungan perkembangan Kota
Bandung tidak lagi memerhatikan
implikasi-implikasi yang bakal
terjadi, baik secara tata ruang kota,
estetika kota, ekologis, maupun
kemasyarakatan.
Pembangunan mal, hotel, jalan
layang, didirikannya factory outlet di
jalan-jalan utama, telah membuat
Kota Bandung kian sulit diatur. Hal
ini disebabkan semua
pembangunan itu gagal
memprediksi dampak-dampak
negatif yang bakal terjadi.
Tidak mengherankan jika, konon,
sejumlah kawan mahasiswa
arsitektur serta planologi ITB di
tahun 1990-an, diwajibkan
membaca buku ini agar dapat
melihat bagaimana Bandung
seharusnya dibangun.
Hal lain yang menarik dari buku ini
yang usianya hampir seperempat
abad ini adalah, banyak kisah-kisah
nostalgia mengenai Bandung.
Pembaca seakan diajak untuk
"berkelana" ke masa lalu. Dan
melihat Bandung yang masih asri,
segar, serba teratur hingga dijuluki
Paris Van Java.
Kisah Jalan Braga yang dulu menjadi
tujuan tempat plesir tuan-tuan
Belanda, hanya satu bagian kecil
yang diulas oleh Haryoto Kunto
dalam buku ini. Masih banyak lagi
tempat yang diulas oleh Haryoto
Kunto seperti kisah sungai
Cikapundung, stasiun bandung,
dingga kawasan Dago. Bahkan
Haryoto Kunto pun sempat
mengulas masalah Bandung Purba.
Buku ini memang layak dibaca tidak
hanya oleh mereka yang cinta Kota
Bandung tetapi juga oleh mereka
yang peduli dengan koat tempat
mereka tinggal, sebab dari buku
dapat diketahui bagaimana
sebaiknya sebuah kota diperlakukan.
***
Baca Selengkapnya... - Kisah Bandung TempoDoloe

Terancamnya Sungai,TerancamnyaPeradaban

18 Agustus 2010

Judul: Jelajah Musi, Eksotika Sungai
di Ujung Senja
Penulis : Tim Kompas
Penerbit: Penerbit Buku Kompas
Tahun: I, April, 2010
Tebal: xxiv + 376
Harga: Rp. 89.000
Sungai tidak hanya merupakan jalur
perdagangan, tetapi juga tempat
berawalnya peradaban. Jika
kemudian sungai mengalami
kerusakan parah, itulah awal
meredupnya sebuah peradaban.
Sungai Musi yang meliuk di bumi
Sumatera Selatan, sejak lama
digunakan sebagai jalur
perdagangan. Aliran sepanjang 720
kilometer ini seakan menjadi denyut
nadi perekenomian sekaligus
kehidupan masyarakat Sumsel.
Namun, kejayaan Musi di masa lalu
terancam hilang. Pasalnya, sungai
tersebut perlahan-lahan tengah
mengalami kerusakan akibat tangan
manusia yang selama berabad-abad
justru hidup dan memperoleh
berkah dari sungai tersebut.
Dari laporan yang disampaikan
dalam buku ini, kerusakan sungai
Kota Palembang itu sudah terjadi
sejak di hulu sungai. Sayangnya,
upaya untuk mengatasinya
dirasakan lambat. Akibatnya,
kerusakan tersebut semakin parah
dan terancam tidak dapat
tertanggulangi.
Salah satu masalah yang dihadapi
oleh sungai Musi adalah erosi. Erosi
ini disebabkan oleh tidak
memadainya konservasi atau
pelestarian tanah. Hal inilah yang
terjadi di daerah Tanjung Raya,
Kabupaten Empat Lawang.
Di wilayah Tanjung Raya, tanaman
kelapa sawit ditanam tanpa pohon
pelindung karena pohon-pohon
pelindung sudah ditebang.
Sedangkan akar pohon sawit tidak
mampu menahan erosi maupun air.
Akibatnya sungai Musi meluap saat
curah hujan meninggi.
Erosi seperti ini juga mengakibatkan
pendangkalan di beberapa wilayah
sepanjang aliran sungai Musi.
Pendangkalan inilah yang membuat
kapal-kapal besar tidak dapat lagi
melayari sungai Musi. Padahal
sejumlah kapal besar dibutuhkan
untuk membawa minyak mentah
dari kilang minyak yang telah
diambil alih dari perusahaan minyak
asing.
Hal tersebut semakin parah pada
musim kemarau. Ketika musim
kemarau tiba, tongkang yang
membawa barang dagangan pun
sulit untuk membawa barang
dagangan ke tempat yang dituju.
Padahal tongkang pembawa barang
dagangan ini sangat membantu
petani maupun warga yang berada
di tepi sungai Musi.
Pencemaran yang diakibatkan oleh
limbah rumah tangga menjadi
masalah lain yang membebani
sungai Musi. Hal ini terjadi seiring
semakin banyaknya rumah yang
dibangun dengan membelakangi
sungai. Rumah yang dibangun
membelakangi sungai potensial
memperburuk kualitas air sungai
karena limbah rumah tangga.
Tinggal cerita
Hal menarik lain dari sungai Musi
adalah DAS (Daerah Aliran Sungai)
Lematang yang merupakan salah
satu anak sungai Musi. Dilaporkan,
hingga tahun 1970-an sungai ini
masih menjadi urat nadi kehidupan
penduduk. Namun karena degradasi
di bidang sosial-ekonomi, penduduk
harus hengkang ke Jawa untuk
menjadi buruh pabrik di pinggiran
Jakarta.
Padahal menurut sejarah, pada
pertengahan abad ke-19, di
sepanjang DAS Lematang banyak
ditemukan tanaman kapas. Bahkan,
menurut sumber sejarah, setengah
dari produksi kapas Karesidenan
Palembang dihasilkan dari daerah
tersebut. Namun hal itu kini hanya
tinggal cerita.
Apa yang disajikan dalam buku ini
adalah gambaran, potensi sungai
yang besar seringkali hilang hanya
karena ketidakmengertian
masyarakat mengenai arti penting
keberadaan sungai. Padahal
Indonesia memiliki banyak sungai
yang potensial untuk menggerakkan
perekonomian dan memberikan
kesejahteraan bagi masyarakat.
Tampaknya, pemerintah pun harus
memberikan perhatian yang lebih
banyak terhadap kondisi sungai di
Indonesia. Regulasi pemerintah
yang tepat serta dijalankan dengan
konsisten, akan membantu
terpeliharanya kehidupan dan
peradaban di sepanjang sungai.***
Baca Selengkapnya... - Terancamnya Sungai,TerancamnyaPeradaban

Menuju Kritik Sastrayang Bermartabat

12 Agustus 2010

Judul: Dari Zaman Citra ke Metafiksi,
Bunga rampai Telaah sastra DKJ
Penulis:Bramantio, dkk
Penerbit:Kepustakaan Populer
Gramedia, Jakarta
Tahun: Januari 2010
Halaman: 528 halaman
Perdebatan mengenai kritik sastra
tampaknya tidak lagi berkutat
seputar validitas metodologi,
kemutlakan kaidah sebuah kajian,
ataupun jenis pendekatan kritik yang
dilakukan, melainkan telah bergeser
ke persoalan penciptaan kritik sastra
yang bermartabat sehingga mampu
memberikan kontribusi yang
signifikan dalam perkembangan
sastra maupun kritik sastra itu
sendiri.
Persoalannya adalah, bagaimana
kritik sastra yang bermartabat
diciptakan sehingga kritik tersebut
benar-benar kreatif sehingga
sanggup melakukan sebuah
interpretasi maupun usaha
eksegesis yang lebih kaya dari
sebuah karya sastra? Siapa yang
seharusnya melakukan kritik sastra?
Kemudian, apakah kritik yang ditulis
dapat dikomunikasikan sehingga
dapat “berbunyi” dan dapat
menyusuri lorong referensi
pembaca awam?
Pengajuan pertanyaan-pertanyan
inilah yang membuat kritik sastra
menjadi sesuatu yang tidak
gampang untuk ditulis. Pertama-
tama karena seorang penulis kritik
harus memiliki kapasitas yang
mumpuni, baik dari sisi teori
maupun “kelengkapan
subyektivitas” lain untuk
menganalisa sebuah karya. Kedua,
ia harus sanggup
mengomunikasikan “temuan” dari
sebuah karya kepada pembaca.
Apabila pembaca tidak dapat
memahami apa yang dicoba
disampaikan oleh penulis kritik,
maka si kritikus telah gagal
melakukan kritik.
Hadirnya buku Dari Zaman Citra ke
Metafiksi, tampaknya ingin
menjawab persoalan di atas. Buku
yang merupakan antologi tulisan
pemenang lomba kritik sastra yang
diselenggarakan oleh Dewan
Kesenian Jakarta pada tahun 2007
dan 2009 ini terutama dilakukan
untuk membasahi “keringnya” kritik
sastra di wilayah kesusatraan
Indonesia mutakhir.
Lalu seperti apakah kritik sastra yang
diharapakan? Apakah kritik sastra
seperti yang termuat dalam buku ini
adalah model kritik yang
diharapkan? Bagiamana
kecenderungan kritik sastra yang
disampaikan dalam buku ini? Mari
kita lihat.
Dari Zaman Citra ke Metafiksi terdiri
dari dua bagian. Bagian pertama
adalah kritik sastra yang diitulis
dengan tema Kepengrajinan
(craftmanship) dalam Sastra
Indonesia Mutakhir, sedangkan pada
bagian kedua, kritik sastra ditulis
dengan tema Sastra Indonesia
Memasuki Abad 21.
Pada tema pertama, kritik ditulis
dengan melihat atau menelaah
epistemologi sastrawan dalam
membentuk karyanya, demikian
ditulis oleh tim juri dalam pengantar
bagian pertama buku ini. Jadi, dalam
telaah ini dicoba ditemukan hal
paling mendasar dari pembentukan
sebuah karya sastra berdasarkan
evidensi-evidensi objektif yang
dapat ditemukan dalam karya sastra
itu sendiri.
Di sini, telaah dimulai dari analisa
teks menuju kompleksitas
sastrawannya. Teks tidak ditelaah
untuk melihat konstruksi ataupun
seluk-beluk pemikiran yang seorang
sastrawan, namun lebih mendasar
lagi yakni craftmanship itu sendiri.
Tidak mengherankan apabila telaah
yang dilakukan begitu kental dengan
“ pemecahan teks”, yakni membagi
teks menjadi pecahan-pecahan kecil
yang kemudian, dan dimaknai untuk
kemudian menerjemahkannya
sebagai satu kesatuan.
Hal ini tampak pada telaah berjudul
Metafiksionalitas Cala Ibi: Novel yang
Bercerita dan Menulis tentang
Dirinya Sendiri yang ditulis oleh
Bramantio. Dalam telaah ini
Bramantio dengan cermat dan detil
menelaah novel Cala Ibi yang ditulis
oleh Nukila Amal. Dalam telaahnya,
Bramantio bahkan menawarkan
cara atau strategi pembacaan novel
Cala Ibi agar kerumitan dalam
“ membaca” simbol di dalamnya
dapat lebih mudah dilakukan.
Kritik yang yang menduduki tempat
teratas pada sayembara kritik sastra
tahun 2009 ini tampak mencoba
untuk melepaskan teks sastra dari
teks-teks lain di luar karya sastra
tersebut, yang dalam istilah Afrizal
Malna disebut sebagai
“ pembersihan”, agar teks tersebut
lebih steril sehiingga lebih mudah
untuk diidentifikasi.
Dalam hal ini, kritikus menyadari
bahwa Cala Ibi adalah novel yang
kaya dengan metafora, kerumitan
sudut pandang cerita, penokohan,
dan tanda-tanda yang sulit dipahami
begitu saja oleh pembaca, sehingga
tawaran pendekatan yang dilakukan
pun memang tidak dapat dilakukan
secara biasa.
Beberapa kritik sastra dalam antologi
lainnya pun mencoba untuk
“ memeriksa” teks-teks sastra untuk
menelaah kerumitan “relasi” antara
dunia seorang sastrawan dengan
dunia yang melingkupinya. Sebut
saja telaah atas sajak-sajak Afrizal
Mana yang ditulis oleh Tia Setiadi.
Tia secara jelas dapat
memperlihatkan bagaimana “relasi”
atau ketegangan antara Afrizal
dengan “teks-teks” dunia yang
dihadapinya.
Bagian kedua dari buku ini adalah
telaah sastra dengan tema Sastra
Indonesia Memasuki Abad Ke-21.
Dalam telaah ini diharapkan ada
jawaban atas sejumlah pertanyan,
seperti adakah kebaruan dalam
sastra Indonesia setelah tahun 2000?
Apakah konteks kekinian
memengaruhi proses penciptaan
sastra Indonesia mutakhir? (hal.299).
Dalam telaah yang dilakukan,
tampaknya pertanyaan-pertanyaan
tersebut dapat dijawab. Sebut saja
telaah berjudul Memandang Bangsa
dari Kota: Telaah atas Cala Ibi (Nukila
Amal dan Jangan Main-main dengan
kelaminmu (Djenar Maesa Ayu).
Penulisnya, Manneke Budiman,
tampaknya berhasil membongkar
teks-teks kota dalam kedua karya
sastra tersebut.
Dari telaah yang dilakukan tersebut,
tampak bagaimana sikap para
sastrawan terhadap penanda dunia
kontemporer, termasuk
menemukan makna dirinya dalam
persoalan-persoalan khas kota
besar. Mereka tidak hanya
mengkritik sekaligus berdamai
dengan tawaran kenikmatan kota,
tetapi juga melihatnya sebagai
simtom keterbelahan bangsa. Kota
hanya sesuatu yang terus
mempercantik diri tanpa pernah
dapat memberikan arti pada bangsa.
Di sini Manneke berusaha
memperlihatkan bahwa karya sastra
Indonesia mutakhir memang masih
mempersoalkan hiruk pikuk kota
yang dianggap selalu
berkecederungan memiliki persoalan
dengan masalah moral.
Tidak hanya itu, pada bagian kedua
ini seperti ingin diperlihatkan bahwa
sastra mutakhir pun masih
berbicara soal spiritualitas Tulisan
yang menyebutkan hal ini adalah
Religiusitas dan Erotika dalam sajak-
sajak acep Zamzam Noor yang
ditulis oleh Tia Setiadi. Dalam tulisan
ini Tia Setiadi berhasil
mengidentifikasi bahwa sajak-sajak
Acep Zamzam Noor banyak
berbicara soal Tuhan dan relasinya
dengan aku-lirik. Namun di saat
yang bersamaan Acep juga bicara
soal erotika dan kekagumannya
kepadaperempuan.
Sepintas hal ini tampak
bertentangan. Namun dengan
argumentasinya, Tia ingin
mengatakan bahwa reiljiusitas dan
erotika adalah dua hal yang memiliki
keterkaitan dan pararelisme yang
erat (hal.478). Dengan mendasarkan
gagasannya pada pemikiran George
Bataille--seorang penulis
Prancis--,Tia setiadi melihat bahwa
pengalaman erotika memiliki
kesamaan dengan penyatuan
dengan sesuatu yang bersifat ilahi
ataupun mistik. Perbedaannya
adalah, dalam erotika kedua insan
harus berubah dan sama-sama
bertindak untuk saling meluruhkan
diri menjadi satu, sedangkan dalam
momen mistik hanya
mengisyaratkan subjek hanya
dalam keadaan hening-bening dan
sunyi (hal. 479). Apa yang
disampaikan oleh Tia Setiadi ini
dapat dikatakan, merupakan
pemakanaan baru dari saja-sajak
Acep Zamzam Noor.
Pendek kata, telaah atau kritik yang
ada pada buku ini memang
menawarkan kebaruan dalam
pemaknaan karya sastra. Hal ini
menunjukkan bahwa para
kritikusnya memiliki kapsitas yang
memadai untuk melakukan sebuah
kritik. Namun tentu saja kritik yang
dilakukan tidak bersifat final, sebab
karya sastra adalah teks terbuka
yang masih dapat dimaknai secara
terus menerus sesuai konteksnya.
Meskipun begitu, terbitnya buku ini
patut dihargai karena dengan cara ini
dunia kritik sastra Indonesia akan
lebih kaya. Terlebih dari itu, usaha
penerbitan kritik sastra dengan
melewati mekanisme penjurian
seperti yang dilakukan oleh Dewan
Kesenian Jakarta akan membuat
kritik sastra yang dilakukan akan
lebih bermartabat. ***
Baca Selengkapnya... - Menuju Kritik Sastrayang Bermartabat

Membuka SelubungDominasi

11 Agustus 2010

Judul: Dominasi Penuh Muslihat,
Akar Kekerasan dan Diskrimnasi
Penulis: Haryatmoko
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: xv + 294 halaman
Harga: Rp. 65.000
Selalu ada kekuasaan di balik realitas
yang melingkupi sebuah
masyarakat. Sistem kemasyarakatan
hingga keketatan sebuah ideologi,
selalu dikonstruksi oleh "kekuasaan"
tertentu. "Kekuasaan" itulah yang
disebut sebagai dominasi.
Pada bagian awal buku yang ditulis
oleh Haryatmoko ini, disampaikan
sejumlah gagasan yang dapat
membantu pembaca untuk mulai
menyadari bagaimana banyak segi
dalam kehidupan telah dimistifikasi
oleh kekuatan tertentu.
Gagasan-gagasan tersebut berasal
dari para pemikir seperti Pierre
Bourdieu, Jean Baudrillard, Jurgen
Habermas, Michel Foucault, hingga
Jacques Derrida, yang terkenal selalu
"menaruh curiga" atas kebenaran-
kebenaran yang sudah terlanjur
diterima secara umum.
Michel Foucault misalnya,
mempertanyakan dominasi yang
menciptakan makna tunggal atas
seks. Foucault yang memunculkan
gagasan arkeologi pengetahuan (the
archeology of knowledge), yakin
bahwa ada kepentingan di balik
sebuah pengetahuan dalam
masyarakat.
Hal yang sama juga terdapat dalam
pemkiran Jurgen Habermas, salah
seorang pemikiran aliran kritis
Mazhab Frankfurt. Pemikiran
Habermas, demikian ditulis
Haryatmoko, ingin membebaskan
manusia dari rasionalitas
intrumental, yang kental dengan
logika dan formalisme dalam
menentukan kebenaran.
Selain itu, Haryatmoko juga melihat
ada sejumlah dominasi utama yang
kerap menjadi akar kekerasan dalam
masyarakat, yakni dominasi agama,
dominasi wacana, dan dominasi
uang yang mengarah kepada
konsumerisme.
Menurut Haryatmoko, dengan
mengutip Nelson Pallmeyer,
dominasi agama kerap memicu
kekerasan. Kekerasan relijius tidak
hanya persoalan distorsi penafsiran
teks, tetapi mengakar pada
anggapan bahwa Tuhan pun berhak
melakukan pembalasan ataupun
kekerasan sebagai bagian dari
kesucianNya.
Kemudian dominasi wacana.
Menurut Haryatmoko, dominasi
wacana adalah hal yang paling sulit
diatasi, terutama menyangkut
kekerasan simbolik. Dominasi ini
beroperasi pada tataran bahasa, cara
kerja, dan cara bertindak (hal. 128).
Selain itu, dampak dominasi wacana
cenderung halus dan tidak terasa.
Parahnya, dominasi ini diakui dan
diterima oleh si korban. Contoh jelas
dominasi wacana adalah, posisi
subordinasi perempuan.
Dominasi lain yang kental dalam
masyarakat kontemporer adalah
uang. Dalam masyarakat
kontemporer, uang menjadi ukuran
untuk menentukan berbagai hal.
Lalu konsumsi tidak lagi berdasarkan
kebutuhan, melainkan tanda.
Di sini, konsumen membeli barang
bukan karena manfaat, tetapi dalam
kaitan pemaknaan seluruh obyek
(hal. 227). Bahkan konsumsi bukan
lagi untuk memenuhi kebutuhan
dasar, tetapi karena tekanan
psikologis dan sosial.
Buku ini menarik karena dengan
memahami isinya, pembaca dapat
menjadi lebih kritis untuk melihat
dominasi di balik sistem tertentu,
yang dengannya makna kebenaran
tidak lagi tunggal.
Seperti lazimnya membaca buku-
buku beraroma filsafat yang kuat,
untuk memahami buku ini,
pembaca harus mau membuka
cakrawala pemikiran secara lebih
luas, dan memiliki usaha lebih untuk
memahami setiap terminologi serta
ide kunci yang dituangkan di
dalamnya.***
(Dimuat di Koran Jakarta edisi 14 Juli
2010)
DIPOSKAN OLEH NIGAR
PANDRIANTO DI 23.22
Baca Selengkapnya... - Membuka SelubungDominasi

MempertanyakanHumanitasKolonialisme

10 Agustus 2010

Judul : Emilie Jawa 1904
Penulis: Catherien Van Moppes
Penerbit: Kepustakaan Populer
Gramedia
Cetak: Juli 2010
Halaman: 481 halaman
Kolonialisme tidak pernah
membawa kesejahteraan bagi
rakyat yang dijajah. Sehumanis apa
pun wajah kolonalisme, hasilnya
hanyalah dehumanisasi. Tidak
mengherankan jika pemberontakan
kerap terjadi bahkan ketika praktik
politik etis dilaksanakan di tanah
jajahan.
Itu yang dapat ditangkap dalam
buku Emilie Jawa 1904 ini. Dalam
buku ini digambarkan bagaimana
poltik etis yang dicoba dilakukan di
Hindia Belanda ternyata tetap
mendapatkan penolakan dari kaum
yang merasa terjajah.
Itulah yang disaksikan oleh Emilie,
seorang perempuan berdarah
Prancis, istri seorang asisten
keamanan pemerintah kolonial.
Emilie yang datang ke Jawa di tahun
1904 untuk mendampingi
suaminya, Lucien, adalah tokoh
sentral dalam novel ini.Ia
digambarkan mengalami sendiri
pergolakan di tanah jajahan pada
masa itu.
Setengah bagian awal buku ini
menceritakan apa saja yang
dilakukan oleh Emilie sebagai
persiapan untuk datang ke tanah
jajahan, termasuk interaksinya
dengan sejumlah pejabat
pemerintah kolonial, baik di Prancis
maupun Belanda.Dari interaksi inilah
terlihat bagaimana pandangan
orangorang di negeri kolonial dalam
memandang pribumi di tanah
jajahan.
Bagi pemerintah kolonial,
orangorang pribumi di tanah
jajahan adalah orang-orang yang
dungu, primitif, dan perlu dididik
untuk menjadi orangorang yang
lebih beradab dan manusiawi.Oleh
karenanya, dipandang perlu untuk
mengukuhkan moralitas masyarakat
setempat dengan membangun
fondasi peradaban bagi orang Jawa
yang dianggap kafir dan barbar (hal
84).
Setiba di Jawa, Lucien dibebani tugas
untuk ikut mengampanyekan arti
kebijakan humanis. Tugas itu
dilengkapi dengan perintah untuk
meredam segala bentuk gejolak
yang bernada anti-Barat.Pada masa
itu memang banyak muncul
golongan anti-Barat yang disebut
sebagai kaum idealis fanatik gaya
baru. Mereka banyak dipengaruhi
pemberontak serta separatis dari
China, Jepang, maupun Filipina.
Emilie pun menjadi akrab dengan
orang-orang yang dekat dengan
dunia pergerakan. Inilah yang
menjadikan pandangan serta posisi
Emilie menjadi berseberangan
dengan suaminya. Belakangan, hal
ini menjadi legitimasi baginya untuk
mengkhianati pernikahanya, lalu
menjalin cinta dengan Anendo yang
terkait dengan tokoh-tokoh
pemberontak.
Jalinan kisah cinta antara Emilie dan
Anendo tampak digunakan oleh
penulis buku ini, Catherine Van
Moppes, sebagai salah simbol
perlawanan terhadap kolonialisme.
Lucien yang berada di pihak kolonial
dilawan oleh Emilie yang bersimpati
dengan gerakan-gerakan anti
hegemoni Barat.
Catherine berhasil membawa
pembaca ke dunia masa lalu yang
memikat.Pada saat yang bersamaan
ia juga berhasil menarik pembaca ke
situasi politik dan pusaran ideologi
yang berlangsung kala itu. Akhirnya,
banyak pelajaran yang dapat diambil
dari buku ini, terutama mengenai
makna kebebasan dan
kemerdekaan.***
Baca Selengkapnya... - MempertanyakanHumanitasKolonialisme

Kemanusiaan danKebermaknaan dalamObituari

01 Agustus 2010

Judul : Mengenang Hidup orang
Lain, Sejumlah Obituari
Penulis : Ajip Rosidi
Penerbit : Kepustakaan Populer
Gramedia, Januari 2010
Halaman : vii + 489 Halaman
Membaca obituari selalu membawa
seseorang kepada dua konsekuensi.
Pertama, mengingat kembali jasa-
jasa, kebaikan, ide-ide, bahkan
kekurangan tokoh yang telah tiada.
Kedua, mengingatkan bahwa
manusia tidak abadi, ada saatnya ia
harus berpulang ke alam baka.
Paling tidak, itulah yang dapat
ditangkap dari kumpulan obituari
yang ditulis oleh Ajip Rosidi ini.
Dalam setiap obituari yang
ditulisnya, Ajip secara lugas
mengisahkan kelebihan-kelebihan
dari tokoh-tokoh yang sedang
dibicarakannya. Ia seperti ingin
memperlihatkan bahwa tokoh-tokoh
itu memang layak untuk dikenang,
dihormati dan dihargai. Paling tidak,
di mata Ajip, mereka bukanlah
orang biasa, tetapi orang-orang
yang mempunyai visi, integritas,
berkepribdian, konsisten, serta setia
terhadap idealisme.
Penghargaan Ajip terhadap tokoh
yang ia kisahkan bukanlah sekadar
asal sebut, tetapi didasarkan atas
pengalaman pribadinya dengan
tokoh bersangkutan. Hal ini terlihat
dari cerita Ajip yang menyatakan
bahwa ia kerap berkorespondensi,
bergaul akrab bahkan berpolemik
dengan mereka. Ini terjadi baik
ketika Ajip masih mengajar di
Jepang maupun ketika ia berada di
Indonesia.
Inilah yang membuat obituari
tokoh-tokoh dalam buku ini menjadi
lebih kaya dan bernas. Ajip tidak
hanya mengisahkan secara umum
ketokohan mereka, tetapi juga
menyampaikan hal-hal kecil yang
bersifat human intersest dari para
tokoh tersebut yang mungkin tidak
diketahui secara umum.
Sebut saja ketika Ajip mengisahkan
Suhamir, seorang arsitek dan ahli
purbakala asal Bandung. Dalam
tulisannya Ajip mengatakan bahwa
tokoh ini adalah arsitek Taman
Makam Pahlawan Cikutra di
Bandung. Ironisnya, tidak banyak
masyarakat Kota Kembang itu yang
mengenal Suhamir. Padahal jasanya
tidak hanya dirasakan oleh
masyarakat Bandung. Menurut Ajip,
Suhamir ikut pula merestorasi Candi
Prambanan.
Catatan menarik dari Ajip mengenai
Suhamir adalah, ia salah satu orang
turut merencanakan pembuatan
kampus Universitas Gadjah Mada
(hal.254) yang honorariumnya dari
pemerintah Republik Indonesia
belum dibayarkan, setidak hingga
tulisan tersebut dibuat pada tahun
1967.
Menurut Ajip, alasan Suhamir tidak
mau menerima bayaran tersebut
karena sejumlah petugas yang tidak
malu-malu meminta komisi jika
honorarium tersebut dicairkan.
Dengan alasan tidak mau ikut-ikutan
“ bermain kotor”, Suhamir akhirnya
memilih untuk tidak mengambil
uang yang kala itu jumlahnya
sangat besar.
Keluasan pergaulan Ajip dengan
orang-orang yang berpengaruh dan
disegani dari berbagai kalangan,
juga ikut membuat obituari yang
ditulisnya semakin berwarna.
Apalagi ia sanggup merangkai kisah
dari tokoh yang ditulisnya dengan
tokoh-tokoh lain sehingga obituari
yang ditulisnya sanggup mengajak
pembaca melihat dan menelusuri
ketokohan seseorang dengan lebih
luas.
Inilah yang membuat sebuah
obituari tidak melulu menjadi
sebuah kisah yang bersifat
individual, tetapi juga menjadi
sebuah kenangan tentang banyak
orang. Dengan begitu obituari
menjadi lebih hidup dan sarat
makna karena di dalamnya terdapat
kisah interaksi antara manusia yang
mencirikan kemanusiaan itu sendiri.
Obituari seperti ini tidak hanya
inspiratif tetapi juga menyadarkan
arti kemanusiaan siapa saja yang
membacanya.
Meksipun obituari yang ditulis oleh
Ajip dalam buku lebih bersifat
penghormatan, namun Ajip tidak
segan untuk melakukan kritik
terhadap tokoh yang ditulisnya. Ajip
seperti tidak memiliki beban untuk
melulu mengatakan hal yang manis
terkait dengan seorang tokoh.
Sebaliknya, dengan lugas Ajip
menyampaikan kritiknya terhadap
seorang tokoh.
Lihat saja ketika Ajip menulis obituari
Pramoedya Ananta Toer. Dalam
tulisannya Ajip tidak hanya
menyayangkan Pramoedya yang
tidak kunjung memperoleh
penghargaan Nobel kendatipun
sudah dicalonkan sebagai
penerimanya, namun juga ia
mengritik aksi Pramoedya yang
menguliti seniman penandatangan
Manifesto Kebudayaan lewat ruang
Lentera dari surat kabar Bintang
Timur.
Seniman lain yang juga terkena kritik
oleh Ajip adalah Dodong
Djiwapradja. Penyair Sunda yang
pernah dianggap memiliki haluan
politik yang kekiri-kirian. Bagi Ajip, di
satu sisi Dodong bukanlah
sastrawan yang produktif. Malah ia
dikatakan sebagai penulis yang tidak
punya motivasi untuk menulis
sehingga ilmunya tidak dapat
diamalkan saecara maksimal.
Padahal Ajip berulang kali mencoba
memotivasinya untuk menulis. Kritik
ini tentu saja bukan bentuk
ketidaksukaan Ajip kepada Dodong,
tetapi cerminan Ajip yang
menyayangkan kemampuan dan
potensi dari sahabatnya itu.
Pada tulisan lain, Ajip juga tidak
segan mengritik Prof.Dr. Fuad
Hassan yang ketika menjadi menteri
Pendidikan dan Kebudayaan
memecat dengan tidak hormat
Riyono Pratikto dari Universitas
Padjadjaran, Bandung, karena
dituduh terlibat Gestapu. Dalam
tulisan tersebut, dengan sedikit sinis,
Ajip mengritik bagaimana mungkin
Fuad Hassan yang katanya memiliki
minat yang besar terhadap sastra,
kesenian, filsafat serta berkawan
dengan para seniman dapat dengan
mudahnya menandatangani surat
pemecatan Riyono, yang juga
seorang penulis produktif, tanpa
melihat kembali secara baik latar
belakang yang sesungguhnya (hal.
398).\
Ajip memang seorang yang lepas
bila mengemukakan pendapatnya.
Ia berbicara langsung apa adanya
tanpa ada yang ditutup-tutupi.
Ketidaksukaannya pada seseorang
ataupun perilaku seseorang selalu ia
tuliskan apa adanya, tanpa dilebih-
lebihkan ataupun “bumbu-bumbu”
lain.
Sebagai budayawan, Ajip
tampaknya mempunyai perhatian
khusus terhadap dunia sastra
ataupun budaya. Tidak
mengherankan jika dalam kumpulan
obituari ini berkali-kali Ajip
mempersoalkan masalah-masalah
yang berkaitan dengan sastra
maupun kebudayaan. Tengok saja
tulisannya yang berjudul Arenawati,
Sasterawan Negara (hal.414). Dalam
tulisan ini secara tidak langsung ia
ingin mengatakan bahwa
pemerintah Indonesia tidak terlalu
peduli dengan dunia sastra ataupun
sastrawannya.
Dalam tulisan itu Ajip memuji
pemerintah Malaysia yang justru
mengangkat Arenawati, sastrawan
asal Indonesia, menjadi Sasterawan
Negara di negeri itu. Kata Ajip,
beruntung Arenawati menjadi
warga negara Malaysia. Pasalnya,
walaupun Arenawati berhasil
menulis karya yang lebih hebat dari
La Galigo, belum tentu ia mendapat
penghargaan dari pemerintah
Indonesia.
Pengalaman Ajip yang sangat kaya,
juga membuat obituari yang
ditulisnya memiliki spketrum yang
meluas. Obituari yang ditulisnya
tidak hanya bicara soal seseorang,
tetapi juga sanggup menyentuh
persoalan-persoalan lain, baik itu di
bidang kebudayaan, ekonomi
maupun politik. Tidak heran jika satu
dua kali kita akan terhenti sejenak
untuk merefleksikan tulisan Ajip
(bahkan ada yang ditulis 40 tahun
lalu) dan memproyeksikannya
dengan kondisi riil yang ada pada
masa kini. Pendek kata, obituari
yang ditulis oleh Ajip berdimensi ke
masa depan, dalam arti sanggup
untuk memotret realitas masa lalu
dan memproyeksikannya pada
kekinian.
Kekurangan kecil tentang buku ini
adalah, beberapa kali ditemukan
sejumlah singkatan pada beberapa
artikel, seperti “al.” dan “kl”,
mungkin artinya “antara lain” dan
“kurang lebih”. Tidak jelas apakah
singkatan itu dibiarkan untuk
mempertahanakan orisinalitas, atau
karena memang terlewat begitu saja
oleh editor.
Pertanyaan ini muncul karena
banyak dari obituari dalam buku ini
ditulis pada tahun 1960-an ketika
penggunaan Bahasa Indonesia di
surat kabar belum terlalu mendapat
perhatian seperti sekarang.
Singkatan tersebut sesekali
membuat pembaca terhenti sejenak
untuk mencoba mengartikannya.
Meskipun demikian, hal itu tidak
mengganggu substansi dari tulisan
yang ada.
Hal yang pasti, obituari yang
disampaikan oleh Ajip
diformulasikan sedemikian rupa
sehingga pembaca ditarik ke sebuah
ujung yang mempertanyakan
eksistensi dirinya di dalam dunia.
Eksistensi ini boleh dikatakan bersifat
paradoks. Di satu sisi eksitensi
manusia diperhitungkandan
diperjuangan, namun di sisi lain
eksistensi seakan menjadi semu
karena pada akhirnya manusia
harus mati.
Namun tentu saja Ajip tidak ingin
menawarakan pesimisme terhadap
kehidupan. Sebaliknya, ia ingin
mengajak setiap orang untuk
berbuat lebih banyak agar hidupnya
lebih bermakna, bagi diri sendiri
maupun orang lain.***
Baca Selengkapnya... - Kemanusiaan danKebermaknaan dalamObituari

Contoh Meresensi Buku

29 Juli 2010

Resensi Buku Rekan-rekan, pada artikel ini akan menjelaskan tentang resensi buku beserta contohnya , artikel ini di ringkas sehingga mudah dibaca dan dicerna serta tidak sulit untuk diterapkan. Resensi adalah bisa dikatakan sebagai mak comblang, itu agar memudahkan kita memahami tentang Resensi, kenapa saya bilang resensi segabai mak comblang dalam kehidupan sehari hari Karena dengan resensi kita dikenalkan suatu karya. Seperti halnya mak comblang kita dikenalkan tentang baik buruknya seseorang, kelebihan,kekurangan. Dalam menulis Resensi perhatikan hal ini sebagai menulis resensi 1. Kalimat/Paragraf   pengantar/pendahuluan( Mengantarkan pembaca supaya pembaca focus pada judul)                                                                                                              2. Gambaran Umum buku (dilihat dari daftar pustaka agar kita udah dalam meresensi)                  3. Topik/permasalahan dan pemecahan ( Menampilkan sinopsis kalau pada buku sastra,pada buku non sastra menjelaskan tentang pembahasan pada buku yang diresensi)                         4. Bahasa (Dilihat dari pengrang menggunakan kalimat yang bagaimana contoh pengarang menggunakan kalimat yang pendek seperti bahasa pers, dilihat dari Diksi, dilihat dari tata bahasa yang dipakai)                                                                                                      5. Gaya penyampaian pengarang.(contoh gaya bercerita,gaya mengajak bicara dll.)            6. Kelebihan dan Kekurangan                                                                                     7. Perbandingan dengan buku lain yang sejenis                                                              8. Nilai Buku (Kegunaan buku untuk apa?,bagi siapa?) Contoh Resensi Buku Pentingnya Berbakti pada Orang tua terhadap kebaikan dan kebahagiaan didunia dan diakhirat Judul: Berbakti kepada Orang Tua kunci Kesuksesan dan Kebahagiaan Anak Penulis: Muhammad Al-Fahham Tahun Terbit : 2006 Penerbit : Irsyad Baitus Salam(IBS)                    Berbakti pada Orang tua sangat dibutuhkan untuk mencapai keluarga yang harmonis hal ini Rasullulah SAW bersabda :” Berbaktilah kalian kepada orang tua kalian niscaya anak-anak kalian akan berbakti pada kalian. Peliharalah kesucian diri kalian, niscaya istri-istri kalian akan memelihara kesucian diri mereka”. ( HR Thabarani dan Hakim)                    Buku bersampul hijau ini berisi 296 halaman dan terdapat 13 bab,10 bab pada pembahasan pertama, 3 bab lainnya pada pembahasan kedua. Pada pembahasan pertama yaitu bakti kepada orangtua,Bab I tertulis pada halaman 75 , BAB II terdapat pada halaman 91 , BAB III (Bakti Nabi Muhammad) tertuang dalam halaman 115 , Bab IV berisi “kewajiban berbakti pada orang tua itu mutlak” tertulis pada halaman 133 ,Bab V pada halaman 151 membahas keutamaan berbakti kepada orang tua pada bab ini tertulis sebanyak 7 halaman, Bab VI “membahas tentang Mendahulukan Hak Orang tua atas hak- hak lainnya” bab ini tertulis   22 halaman, Bab VII membahas tentang “Fenomena berbakti kepada orang tua dalam pembahasan tentang Etika”, Bab VIII membahas tentang “metode dan petunjuk Nabi untuk berbakti kepada orang tua setelah Wafat”, Bab IX Membahas tentang “Mengapa Ibu lebih didahulukan”, dan pada Bab X menjelaskan tentang “Bukti-bukti yang berharga”. Pada pembahasan yang kedua yaitu membahas tentang durhaka Kepada Orang tua, Bab I menjelaskan tentang “Akibat Durhaka kepada Orang TUa ”, tertulis pada halaman ke 255 ,dan Bab ini ditulis 14 halaman, Bab II menjelaskan tentang “Bentuk bentuk perbuatan durhaka kepada Orang tua” ditulis pada halaman 269 , pada Bab terakhir menerangkan tentang “Apakah orang yang durhaka dapat bertobat?” BAB ini ditulis sebanyak 11 halaman, pada akhi buku ini terdapat Epilog ditulis pada halaman 293.                    Buku yang membahas tentang berbakti pada orang tua, dan durhaka kepada orang tua ini memberitahu kita tentang bagaimana kita memelihara eksistensi(keutuhan ) masyarakat dengan memelihara keluarga, kisah tentang Berbaktinya Nabi Ismail as, Yahya as, Isa as,serta Bakti Nabi Muhammad SAW.                    Penulis menggunakan kalimat yang berpanjang lebar dalam menerangkan permasalahan tetappi gampang dimengerti, banyak terdapat dalil-dalil yang memperkuat buku ini, bahasa yang digunakan adalah bahasa yang santun.                    Gaya penulis menuangkan idenya adalah dengan gaya bercerita, itu dilihat dari tulisan penulis yang menjelaskan sesuatu dengan contoh hal ini mempermudah pembaca memahami suatu pembahasan.                    Dengan melakukan pendekatan- pandekatan   yang terdapat buku ini menjadi kelebihan tersendiri, namun terdapat kekurangan pada buku ini yaitu pada kertas. Kertasnya menggunakan buku pada umumnya yakni menggunakan kertas yang kualitasnya lebih baik dari kertas buram sedikit.                      Dibandingkan dengan buku lainnya buku ini lebih mudah dimengerti dan bagi anda pembaca buku ini sangat mudah untuk mengaplikasinya.                     Buku ini berguna bagi siapa saja terutama bagi para pemuda yang mencari jati diri, buku ini juga cocok buat para suami yang mencari istri shalihah karena terdapat pembahasan tentang hal tersebut.Semua itu tergantung pada pembaca yang ingin menambah wawasan tentang agama, karena saya hanya mengenallkan   bagaimana buku tersebut, dan saya menjelaskan apa adanya.                                                       
Baca Selengkapnya... - Contoh Meresensi Buku

Melawan OtoritasTanpa Batas SekteAgama

15 Juni 2010

Judul: Stolen Innocnece, Kisah Nyata
Pengantin Belia di Sekte Poligami
Penulis : Elissa Wall dan Lisa Pulitzer
Penerbit : Dastan Books, Jakarta,
september 2009
Pengultusan terhadap pemimpin
agama memunculkan
kecenderungan untuk
menganggapnya sebagai otoritas
yang tidak terbantahkan, baik ajaran
maupun perintahnya. Bahkan bukan
tidak mungkin otoritas tersebut
dianggap sebagai pemegang wahyu
Tuhan dengan wewenang tanpa
batas.
Kepemilikian wewenang seperti
inilah yang membuat pemimpin
agama tergoda untuk
menyelewengkan ajaran agama
dengan maksud mempertahankan
status quo dan memperoleh
keuntungan, misalnya saja secara
finansial, untuk dirinya sendiri.
Meskipun karena itu banyak
pengikutnya yang dirugikan dan
diperlakukan secara tidak
manusiawi.
Inilah yang terjadi pada sekte
Mormon The Fundamentalist
Church of Latter Day Saints--Gereja
Fundamental Orang Kudus Akhir
Jaman Akhir--(FLDS). Di sekte ini
pemimpin agama yang disebut
sebagai nabi, memiliki wewenang
yang sangat luas. Kata-katanya
adalah wahyu Tuhan yang harus
dipatuhi. Pembangkangan
terhadapnya adalah sebuah dosa
yang tidak terampuni. Para
pembangkang tidak akan mendapat
tempat di komunitas maupun di
dalam kerajaan surga.
Dalam sekte ini, poligami menjadi
suatu syarat yang harus dipenuhi
oleh lelaki jika ingin masuk ke surga.
Paling tidak seorang lelaki harus
memiliki tiga orang istri agar pintu
surga terbuka untuk dirinya. Alhasil,
para pemuka FSLD dapat
memperistri lebih dari sepuluh
orang perempuan dengan puluhan
anak yang hidup bersamanya dalam
sebuah rumah. Dapat dibayangkan,
beragam persoalan maupun konflik
yang bakal terjadi dengan kondisi
seperti ini.
Para perempuan dapat saja menolak
jika dengan praktik ini. Namun
dengan keyakinan, yang selalu
ditanamkan oleh pemimpin agama
di kelompok mereka, bahwa titah
nabi adalah perintah Tuhan, maka
tidak banyak diantara mereka yang
berani untuk melawan. Mereka
menerima begitu saja perlakuan
menyakitkan dari suami mereka.
Pembenarannya adalah, hal itu
mereka lakukan untuk memenuhi
rencana penciptaan Tuhan, yakni
mengangkat mereka ke surga.
Adalah Elissa Wall, salah satu putri
keluarga pengikuit FLDS. Ia adalah
salah satu kisah tragis anak-anak
yang dibesarkan di lingkungan sekte
itu. Ia tidak hanya diajarkan untuk
selalu patuh pada setiap perintah
dan larangan yang keluar dali mulut
nabi, namun juga dipaksa untuk
menikah dengan orang yang tidak
dicintainya, bahkan dibencinya, di
usia yang masih sangat muda.
Pernikahan yang diatur dan
direkayasa oleh nabi tersebut,
memang membuat Elissa
mengalami depresi berat. Berkali-kali
ia menemui nabi untuk menjelaskan
situasi dan kondisi dirinya, namun
sang nabi tidak memedulikannya.
Alasan Elissa bahwa ia masih muda
dan sangat tidak siap untuk
menikah, tidak digubris oleh sang
nabi.
Akhirnya dari malam ke malam
tidak lebih dari neraka bagi Elissa. Ia
dipaksa oleh Allen, suaminya, untuk
melakukan hubungan badan. Elissa
menolak karena merasa katakutan
dengan sesuatu yang sama sekali
belum pernah didengar ataupun
diketahuinya. Namun Allen terus
memaksa. Ia pun memerkosa
Elissa.
Apa yang dilakukan oleh Elissa wajar
saja, sebab di lingkungan dimana
seorang pemuda selalu disamakan
dengan "ular berbisa", sangat sulit
baginya untuk tiba-tiba menerima
kehadiran seorang lelaki di
sampingnya menjelang tidur. Elissa
benar-benar tidak bisa menerima
kenyataan yang saat itu tengah
dihadapinya.
Elissa mencoba untuk mejelaskan
apa yang dialaminya di rumah
kepada nabi. Ia juga menyampaikan
berbagai keluhan kepada nabi.
Namun untuk ke sekian kalinya sang
nabi tidak ambil peduli dengan
penderitaan yang dialami oleh Elissa.
Bagi nabi, seorang istri harus
mematuhi kata suami sebab "istri
adalah harta suami".
Namun Elissa tidak tinggal diam. Ia
terus berusaha menghindari dari
Allen. Ia pun semakin kritis
mempertanyakan ajaran agamanya
dan wewenang nabi yang semakin
hari dirasa semakin tidak masuk
akal. Ulahnya ini membuat panas
telinga para pemuka agama dan
anggota komunitas FLDS. Ia
diancam untuk melakukan
pertobatan darah yang mengancam
nyawanya. Pada suatu kesempatan
yang tepat Elissa melarikan diri dari
kelompok itu
Pada akhirnya Elissa melaporkan
perlakuan pemimpin FLDS terhadap
dirinya kepada polisi. Sang nabi pun
ditangkap dan diseret ke pengadilan.
Dari proses pengadilan terbongkar
bahwa Warren Jeffs yang dianggap
nabi, yang dianggap mewakili
Tuhan, ternyata tidak lebih dari nabi
palsu yang hanya ingin mencari
keuntungan belaka. Warren pun
dijatuhi hukuman atas tuduhan
pemerkosaan.
Buku ini, merupakan ungkapan hati
mewakili suara perempuan yang
cenderung dinomorduakan--atau
tidak didengar sama sekali--dalam
komunitas-komunitas agama.
Dalam komunitas FLDS ini misalnya,
seorang istri harus patuh kepada
suaminya. Ketidakpatuhan dianggap
sebagai bentuk perlawanan kepada
kehendak Tuhan, sedangkan
melawan kehendak Tuhan adalah
dosa akan membawa seseorang ke
dalam neraka.
Hal yang menarik adalah, Elissa tidak
tinggal diam. Ia harus bersuara
meskipun ia harus menjadi
"golongan murtad" bagi
komunitasnya. Itulah risiko yang
harus diambil Elissa untuk
memperoleh apa yang menjadi
haknya, yakni keadilan.
Buku ini juga mengingatkan kepada
pembaca bahwa atas nama ajaran
agama, seseorang dapat berbuat
apa saja untuk kepentingannya.
Bahkan otoritas tanpa batas yang
diberikan dapat diubah menjadi
berbagai bentuk kesemenaan yang
merugikan, dengan kata lain, hal
tersebut adalah awal kemunculan
kepemimpinan diktator. Oleh sebab
itu sikap kritis harus dimiliki agar
umat tidak terjebak kepada ajaran
yang menyesatkan.****
Baca Selengkapnya... - Melawan OtoritasTanpa Batas SekteAgama

Melihat BerbagaiDimensi Peristiwadengan Humor

19 Mei 2010

Judul: Presiden Guyonan
Penulis: Butet Kartaredjasa
Tebal: xxiv + 285 halaman
Penerbit: Kitab Sarimin, Yogyakarta,
Terbit: November 2008
Sebuah surat kabar memuat ratusan
berita setiap harinya. Berbagai
peristiwa dihadirkan ke hadapan
pembaca.secara bertubui-tubi. Isu
demi isu terus berganti setiap
minggunya. Nyaris tidak ada isu
yang dapat bertahan lama. Pembaca
pun seperti mengalami amnesia isu.
Ini adalah konsekuensi dari media
massa yang selalu mengutamakan
aktualitas. Aktualitas dan kecepatan
menyiarkan sebuah berita menjadi
menjadi sebuah keharusan. Padahal
kedalaman sebuah berita juga
diperlukan agar dimensi-dimensi
dari sebuah berita dapat ditangkap
oleh pembaca.
Oleh sebab itu, harus ada sebuah
cara agar isu-isu yang mengemuka
di media masa tidak terlindas begitu
saja oleh isu-isu lain yang terus
menjejali ruang pikiran pembaca.
Cara ini harus dapat mengajak
pembaca untuk melihat dimensi-
dimensi lain dari sebuah peristiwa,
merenungkan, merefleksikan, dan
bahkan menginterpretasikannya
Untuk itulah sebuah kolom hadir di
surat kabar. Kolom tidak hadir
dengan perhitungan kecepatan dan
aktualitas, meskipun persoalan yang
dikemukakan dapat saja merupakan
sesuatu yang aktual, tetapi selalu
mengajak pembaca untuk sejenak
melongok peristiwa tersebut dan
memberikan diri untuk
merenungkannya.
Tentu saja, untuk mencapai hal ini
kolom harus hadir dengan format
dan caranya yang berbeda dan
khas. Di sinilah kepiawaian seorang
penulis kolom dibutuhkan, dan Butet
Kartaredjasa telah memilih caranya
sendiri untuk mengajak pembaca
melihat secara reflektif realitas yang
ada di sekitarnya.
Untuk mengajak pembaca
merenungkan persoalan atau
fenomena yang terjadi dalam
masyarakat, Butet menghadirkan
tulisan-tulisan yang dapat
mengundang pembaca tersenyum
atau bahkan tertawa. Kolom-
kolomnya tidak hadir dengan cara
yang memberat karena ia tahu,
apabila persoalan yang
disampaikannya saja sudah berat,
maka tidak perlu lagi memberikan
beban kepada pembaca dengan
menghadirkan tulisan-tulisan yang
sulit diicerna. Di sinilah letak salah
satu kekuatan kolom-kolom ini.
Kelebihan lain kolom-kolom Butet
yang pernah dimuat di harian Suara
Merdeka di Semarang ini adalah
hadirnya tokoh Mas Celathu
bersama anggota keluarganya,
yakni Mbakyu Celathu, istrinya, serta
anak-anaknya. Lewat tokoh-tokoh
inilah Butet menyajikan isu-isu
penting yang mungkin terlupakan
dalam dinamika kerja sebuah media.
Namun tokoh sentral Mas Celathu
memang sangat dominan dalam
kolom-kolom Butet ini. Lewat sosok
inilah Butet menyampaikan buah
pikirannya. Tokoh ini
digambarkannya sering muncul
dengan kegelisahan-kegelisahan,
kegeraman-kegeraman, dan bahkan
dengan kebingungan-
kebingungannya sendiri, yang
merupakan respon dari apa yang
dilihat dan dicermati dari
lingkungannya.
Mas Celtahu juga bukan hanya
sosok sederhana yang terkadang
terkesan selalu bebas berbicara,
tukang njeplak, dan tajam dalam
mengritik, tapi juga sering muncul
dengan gagasan yang melawan
mainstream. Sebut saja ketika ia
bicara soal gay dan lesbian dalam
kolomnya yang berjudul Psikopat
Anyar. Dalam tulisan ini dikisahkan
bagaimana Mas Celathu mencoba
meluruskan anggapan umum
masyarakat mengenai para gay dan
lesbian yang terlanjur diberi cap
negatif. Mas Celathu digambarkan
mengajak masyarakat untuk
menghargai keberadaan kelompok
ini. Gay dan lesbian tidak selalu
identik dengan pembunuhan kejam,
mutilasi atau berbagai kejahatan lain.
Justru mereka yang berprofesi
mulia, dijangkiti sindrom psikopat.
Tidak hanya itu, Mas Celathu pun
acap kali tergoda dan ”gatal” untuk
memberikan komentar, tanggapan,
pujian ataupun ejekan dari apa yang
ditemuinya dalam kehidupan sehari-
hari. Ini sesuai dengan istilah
celathu, yang dalam bahasa Jawa
dapat berarti nyeletuk, menyahut,
atau "menyambar" omongan orang
lain. Alhasil, dengan cara yang
jenaka, pentolan teater Gandrik ini,
mengritik dan mengolok-olok
berbagai kejadian atau keadaan yang
menurutnya tidak tepat, melanggar
aturan, ataupun keliru sama sekali.
Tetapi Butet tidak selalu
memoisisikan Mas Celathu sebagai
pengritik yang selalu bersih
sehingga seakan-akan punya
otoritas menunjuk kesalahan orang
lain alias menghakimi. Di sisi lain
justru ia menghadirkan Mas Celathu
sebagai sosok yang manusiawi,
yang sering khilaf, berbuat kekliruan,
yang terkadang justru terjebak
dalam kondisi atau persoalan yang
sebelumnya sering ia kritik.
Simak saja di kolom berjudul Isteri
Bernyali. Dalam kolom ini dikisahkan
Mas Celathu tergoda untuk
"berbisnis" di lokasi yang tertimpa
bencana alam. Ia melihat di lokasi
bencana alam inilah ia bisa meraup
keuntungan dengan berdagang
berbagai benda yang dibutuhkan
oleh mereka yang tertimpa bencana
alam. Namun ide tersebut
dimentahkan begitu saja oleh sang
istri. Sang istri menilai gagasan
tersebut tidak etis karena mencari
keuntungan di atas kesusahan orang
lain. Diserang seperti itu, Mas
Celathu pun mengkeret tak berkutik.
Rupanya Mas Celathu yang doyan
memarahi penguasa pun bisa
tunduk terhadap istrinya.
Salah satu kelebihan kolom-kolom
dalam Presiden Guyonan ini adalah
bagaimana Butet memakai istilah-
istilah dalam bahasa Jawa. Ini wajar
saja, sebab kolom ini memang hadir
di tengah-tengah masyarakat yang
menggunakan bahasa Jawa. Tetapi
toh persoalan yang disampaikan
bukan persoalan primordial, tetapi
persoalan yang lebih luas lagi
spekttrumnya, persoalan.
Penggunaan istilah dalam bahasa
Jawa justru membuat kolom ini
lebih hidup, lebih "berbumbu"
sehingga unsur humor yang
dibangun di dalamnya lebih kental.
Mereka yang tidak terlalu paham
bahasa Jawa dapat melihat arti atau
makna dari istilah-istilah tersebut di
bagian akhir buku ini.
Penggunaan istilah dalam bahasa
Jawa yang dilakukan oleh Butet
tersebut, mengingatkan kita kepada
kolom-kolom almarhum Umar
Kayam yang dimuat di harian
Kedaulatan Rakyat di Yogyakarta.
Dalam kolom-kolom tersebut Umar
Kayam juga menggunakan istilah-
istilah Jawa yang begitu mengena.
Dengan istilah-istilah itu justru
sendirian, ejekan, ataupun kritik
yang dilontarkan menjadi lebih
"ciamik" untuk dinikmati.
Catatan lain dari kolom-kolom Butet
ini adalah, ia menggunakan "logika
terbalik" untuk memaknai masalah-
masalah yang ditulis. Hal yang
dimaksudkan di sini adalah, apabila
sebuah persoalan dipandang serius,
seseorang cenderung merseponnya
dengan serius pula. Bahkan,
sejumlah teori Barat--baik teori
politik, ekonomi atau sosial--
digunakan untuk memaknai dan
mencarikan jalan keluar dari
persoalan yang ada.
Namun tidak demikian dengan
Butet. Dalam kolom-kolomnya ini, ia
justru merseponnya dengan cara
yang ringan, sederhana, bahkan
cenderung melucu. Persoalan-
persoalan yang ada selalu
dihampirinya dengan cara yang
membuat orang tergelitik. Inilah
yang dimaksudkan "logika terbalik".
Sesuatu yang tampak serius,
” angker” atau bahkan elit, di kolom-
kolom justru diresponnya hanya
dengan tertawa. Di sini Butet seperti
ingin mengajak pembaca
menghampiri setiap masalah
dengan cara yang terbalik. Ia seperti
ingin berkata, buat apa susah-susah
merunyamkan pikiran hanya karena
memikirkan persoalan yang sudah
terlalu ruwet. Lebih baik hadapi saja
dengan senyum. Buat apa
mengerutkan dahi karena melihat
kesedihan yang terlampau
menyedihkan, lebih baik tertawa
saja agar kesedihan itu lebih dapat
dapat terobati.***
Baca Selengkapnya... - Melihat BerbagaiDimensi Peristiwadengan Humor

Melihat BerbagaiDimensi Peristiwadengan Humor

Judul: Presiden Guyonan
Penulis: Butet Kartaredjasa
Tebal: xxiv + 285 halaman
Penerbit: Kitab Sarimin, Yogyakarta,
Terbit: November 2008
Sebuah surat kabar memuat ratusan
berita setiap harinya. Berbagai
peristiwa dihadirkan ke hadapan
pembaca.secara bertubui-tubi. Isu
demi isu terus berganti setiap
minggunya. Nyaris tidak ada isu
yang dapat bertahan lama. Pembaca
pun seperti mengalami amnesia isu.
Ini adalah konsekuensi dari media
massa yang selalu mengutamakan
aktualitas. Aktualitas dan kecepatan
menyiarkan sebuah berita menjadi
menjadi sebuah keharusan. Padahal
kedalaman sebuah berita juga
diperlukan agar dimensi-dimensi
dari sebuah berita dapat ditangkap
oleh pembaca.
Oleh sebab itu, harus ada sebuah
cara agar isu-isu yang mengemuka
di media masa tidak terlindas begitu
saja oleh isu-isu lain yang terus
menjejali ruang pikiran pembaca.
Cara ini harus dapat mengajak
pembaca untuk melihat dimensi-
dimensi lain dari sebuah peristiwa,
merenungkan, merefleksikan, dan
bahkan menginterpretasikannya
Untuk itulah sebuah kolom hadir di
surat kabar. Kolom tidak hadir
dengan perhitungan kecepatan dan
aktualitas, meskipun persoalan yang
dikemukakan dapat saja merupakan
sesuatu yang aktual, tetapi selalu
mengajak pembaca untuk sejenak
melongok peristiwa tersebut dan
memberikan diri untuk
merenungkannya.
Tentu saja, untuk mencapai hal ini
kolom harus hadir dengan format
dan caranya yang berbeda dan
khas. Di sinilah kepiawaian seorang
penulis kolom dibutuhkan, dan Butet
Kartaredjasa telah memilih caranya
sendiri untuk mengajak pembaca
melihat secara reflektif realitas yang
ada di sekitarnya.
Untuk mengajak pembaca
merenungkan persoalan atau
fenomena yang terjadi dalam
masyarakat, Butet menghadirkan
tulisan-tulisan yang dapat
mengundang pembaca tersenyum
atau bahkan tertawa. Kolom-
kolomnya tidak hadir dengan cara
yang memberat karena ia tahu,
apabila persoalan yang
disampaikannya saja sudah berat,
maka tidak perlu lagi memberikan
beban kepada pembaca dengan
menghadirkan tulisan-tulisan yang
sulit diicerna. Di sinilah letak salah
satu kekuatan kolom-kolom ini.
Kelebihan lain kolom-kolom Butet
yang pernah dimuat di harian Suara
Merdeka di Semarang ini adalah
hadirnya tokoh Mas Celathu
bersama anggota keluarganya,
yakni Mbakyu Celathu, istrinya, serta
anak-anaknya. Lewat tokoh-tokoh
inilah Butet menyajikan isu-isu
penting yang mungkin terlupakan
dalam dinamika kerja sebuah media.
Namun tokoh sentral Mas Celathu
memang sangat dominan dalam
kolom-kolom Butet ini. Lewat sosok
inilah Butet menyampaikan buah
pikirannya. Tokoh ini
digambarkannya sering muncul
dengan kegelisahan-kegelisahan,
kegeraman-kegeraman, dan bahkan
dengan kebingungan-
kebingungannya sendiri, yang
merupakan respon dari apa yang
dilihat dan dicermati dari
lingkungannya.
Mas Celtahu juga bukan hanya
sosok sederhana yang terkadang
terkesan selalu bebas berbicara,
tukang njeplak, dan tajam dalam
mengritik, tapi juga sering muncul
dengan gagasan yang melawan
mainstream. Sebut saja ketika ia
bicara soal gay dan lesbian dalam
kolomnya yang berjudul Psikopat
Anyar. Dalam tulisan ini dikisahkan
bagaimana Mas Celathu mencoba
meluruskan anggapan umum
masyarakat mengenai para gay dan
lesbian yang terlanjur diberi cap
negatif. Mas Celathu digambarkan
mengajak masyarakat untuk
menghargai keberadaan kelompok
ini. Gay dan lesbian tidak selalu
identik dengan pembunuhan kejam,
mutilasi atau berbagai kejahatan lain.
Justru mereka yang berprofesi
mulia, dijangkiti sindrom psikopat.
Tidak hanya itu, Mas Celathu pun
acap kali tergoda dan ”gatal” untuk
memberikan komentar, tanggapan,
pujian ataupun ejekan dari apa yang
ditemuinya dalam kehidupan sehari-
hari. Ini sesuai dengan istilah
celathu, yang dalam bahasa Jawa
dapat berarti nyeletuk, menyahut,
atau "menyambar" omongan orang
lain. Alhasil, dengan cara yang
jenaka, pentolan teater Gandrik ini,
mengritik dan mengolok-olok
berbagai kejadian atau keadaan yang
menurutnya tidak tepat, melanggar
aturan, ataupun keliru sama sekali.
Tetapi Butet tidak selalu
memoisisikan Mas Celathu sebagai
pengritik yang selalu bersih
sehingga seakan-akan punya
otoritas menunjuk kesalahan orang
lain alias menghakimi. Di sisi lain
justru ia menghadirkan Mas Celathu
sebagai sosok yang manusiawi,
yang sering khilaf, berbuat kekliruan,
yang terkadang justru terjebak
dalam kondisi atau persoalan yang
sebelumnya sering ia kritik.
Simak saja di kolom berjudul Isteri
Bernyali. Dalam kolom ini dikisahkan
Mas Celathu tergoda untuk
"berbisnis" di lokasi yang tertimpa
bencana alam. Ia melihat di lokasi
bencana alam inilah ia bisa meraup
keuntungan dengan berdagang
berbagai benda yang dibutuhkan
oleh mereka yang tertimpa bencana
alam. Namun ide tersebut
dimentahkan begitu saja oleh sang
istri. Sang istri menilai gagasan
tersebut tidak etis karena mencari
keuntungan di atas kesusahan orang
lain. Diserang seperti itu, Mas
Celathu pun mengkeret tak berkutik.
Rupanya Mas Celathu yang doyan
memarahi penguasa pun bisa
tunduk terhadap istrinya.
Salah satu kelebihan kolom-kolom
dalam Presiden Guyonan ini adalah
bagaimana Butet memakai istilah-
istilah dalam bahasa Jawa. Ini wajar
saja, sebab kolom ini memang hadir
di tengah-tengah masyarakat yang
menggunakan bahasa Jawa. Tetapi
toh persoalan yang disampaikan
bukan persoalan primordial, tetapi
persoalan yang lebih luas lagi
spekttrumnya, persoalan.
Penggunaan istilah dalam bahasa
Jawa justru membuat kolom ini
lebih hidup, lebih "berbumbu"
sehingga unsur humor yang
dibangun di dalamnya lebih kental.
Mereka yang tidak terlalu paham
bahasa Jawa dapat melihat arti atau
makna dari istilah-istilah tersebut di
bagian akhir buku ini.
Penggunaan istilah dalam bahasa
Jawa yang dilakukan oleh Butet
tersebut, mengingatkan kita kepada
kolom-kolom almarhum Umar
Kayam yang dimuat di harian
Kedaulatan Rakyat di Yogyakarta.
Dalam kolom-kolom tersebut Umar
Kayam juga menggunakan istilah-
istilah Jawa yang begitu mengena.
Dengan istilah-istilah itu justru
sendirian, ejekan, ataupun kritik
yang dilontarkan menjadi lebih
"ciamik" untuk dinikmati.
Catatan lain dari kolom-kolom Butet
ini adalah, ia menggunakan "logika
terbalik" untuk memaknai masalah-
masalah yang ditulis. Hal yang
dimaksudkan di sini adalah, apabila
sebuah persoalan dipandang serius,
seseorang cenderung merseponnya
dengan serius pula. Bahkan,
sejumlah teori Barat--baik teori
politik, ekonomi atau sosial--
digunakan untuk memaknai dan
mencarikan jalan keluar dari
persoalan yang ada.
Namun tidak demikian dengan
Butet. Dalam kolom-kolomnya ini, ia
justru merseponnya dengan cara
yang ringan, sederhana, bahkan
cenderung melucu. Persoalan-
persoalan yang ada selalu
dihampirinya dengan cara yang
membuat orang tergelitik. Inilah
yang dimaksudkan "logika terbalik".
Sesuatu yang tampak serius,
” angker” atau bahkan elit, di kolom-
kolom justru diresponnya hanya
dengan tertawa. Di sini Butet seperti
ingin mengajak pembaca
menghampiri setiap masalah
dengan cara yang terbalik. Ia seperti
ingin berkata, buat apa susah-susah
merunyamkan pikiran hanya karena
memikirkan persoalan yang sudah
terlalu ruwet. Lebih baik hadapi saja
dengan senyum. Buat apa
mengerutkan dahi karena melihat
kesedihan yang terlampau
menyedihkan, lebih baik tertawa
saja agar kesedihan itu lebih dapat
dapat terobati.***
Baca Selengkapnya... - Melihat BerbagaiDimensi Peristiwadengan Humor

MenghadirkanRealitas Ke RuangKontemplatif

19 April 2010

Judul : Kiai Bejo, Kiai Untung, Kiai
Hoki
Penulis : Emha Ainun Nadjib
Penerbit : Penerbit Buku Kompas
Tebal : 258 Halaman
Terbit : Juni, 2007
Siapa tidak mengenal Emha Ainun
Nadjib. Lelaki ini terbilang produktif
dalam menulis. Tulisannya ada yang
berupa puisi, cerita pendek, kolom,
hingga esai. Lewat tulisan-tulisan itu
berbagai persoalan dibedahnya,
mulai dari soal politik, sosial
kemasyarakatan, sastra,
kebudayaan, kebangsaan, sampai
agama. Itu pula yang dilakukannya
lewat buku berjudul Kiai Bejo, Kiai
Untung, Kiai Hoki ini.
Di dalam kumpulan esai ini Emha
mengungkapkan berbagai persoalan
yang ada di dalam masyarakat. Ia
yakin begitu banyak masalah dalam
masyarakat yang nyata-nyata
menuntut penyelesaian. Dalam
pandangannya, jika persoalan itu
tidak mendapatkan perhatian dari
berbagai pihak, keterpurukan dan
krisis bangsa Indonesia tidak akan
pernah berakhir.
Persoalan-persoalan itu bagi Emha
bukan sekadar sebuah gejala, tetapi
telah menjadi potret buram yang
terjadi dalam waktu lama.
Buntutnya, diperlukan perubahan
yang radikal agar bangsa Indonesia
bisa lolos dari krisis. Di sinilah titik
kritik Emha yang tertuang dalam
tulisannya.
Dalam kumpulan esai ini, Emha
tampak mencoba menyodorkan
realitas ke depan pembacanya. Ia
mencoba menghadirkan kenyataan
tersebut langsung ke pusat
kesadaran pembacanya. Tidak
mengherankan jika pembaca
sesekali akan berhenti membaca
untuk memberikan ruang
kontemplasi, dan merenungkan apa
yang sedang dibacanya. Hal ini
dilakukan misalnya dengan
melontarkan pertanyaan-pertanyan
retorik. Di sinilah salah satu
kelebihan esai-esai yang ditulis oleh
Emha.
Di samping itu, Emha kerap
menggunakan idiom-idom yang
diambil dari Al Quran sehingga
nafas Islami dari sejumah esainya
dapat dirasakan. Menariknya,
meskipun begitu, esai-esai tersebut
tetap kontekstual dengan
keindonesiaan dan tidak menjadi
tulisan-tulisan agama, walaupun
nilai-nilai religius tetap mengalir di
dalamnya. Inilah yang membuat
tulisan-tulisan Emha tetap dapat
“dinikmati” oleh berbagai kalangan,
bahkan lintas pemeluk agama.
Ke akar masalah
Esai-esai Emha tidak bergegas
memberikan sebuah solusi untuk
problem-problem yang tengah
dibahas. Tetapi justru ia mengajak
pembaca untuk secara perlahan
menyelami akar masalah dari
persoalan yang ada. Di sini pembaca
seakan diajak untuk melihat setiap
permasalah secara komprehensif,
mengakar, terbuka terhadap
berbagai kemungkinan, bersikap
tidak asal tuduh, dan selalu
mempertimbangkan dimensi-
dimensi yang mengitarinya
(pluridimensional).
Hal di atas tampak misalnya ketika
Emha berbicara soal terorisme yang
memunculkan stereotip di kalangan
atau kelompok masyarakat tertentu.
Dalam tulisan ini diceritakan
bagaimana Emha harus menjawab
pertanyaan yang diajukan seputar
terorisme dan pesantren. Menjawab
pertanyaan yang berkaitan dengan
pesantren, dengan nada
menyejukkan Emha
mengungkapkan bahwa orang-
orang dari pesantren adalah kaum
yang termarjinalkan. Lulusan
pesantren sebagian besar menjadi
kaum yang terlempar dari arus
jaman. Lalu, yang tidak diperhatikan
oleh banyak kalangan,
keterpinggiran tersebut disertai
dendam di punggung mereka dan
sewaktu-waktu bisa berubah
menjadi ledakan api.
Harus diakui memang, tulisan-
tulisan lelaki yang akrab dipanggil
Cak Nun ini bukanlah tulisan yang
dapat seketika dipahami. Namun
diperlukan kearifan, kecermatan
serta ketelitian dalam membacanya.
Maklum saja, tulisan-tulisannya
bukanlah berita sensasional tabloid
hiburan yang dapat dinikmati secara
instan.
Menyerahkan kepada pembaca
Emha sendiri di dalam esai-esainya
tidak mencoba menggurui. Ia juga
tidak tiba-tiba menjadi orang yang
“ maha tahu” dan mempunyai
kapasitas untuk memberikan nilai
pada sebuah keadaan, melainkan
mencoba membahasakan realitas ke
hadapan pembaca. Mengenai
penilaian, hal itu lagi-lagi diserahkan
kepada pembaca.
Di dalam esai-esainya, Emha sering
mengajak pembaca melihat realitas
dengan cara tidak langsung. Ia
seringkali masuk ke dalam persoalan
lewat peristiwa tertentu atau bahkan
cerita tertentu. Dari situ
spektrumnya meluas dan
menyusup ke hal-hal yang
mendasar dan substansial.
Ketika Emha memperbincangkan
soal goyang Inul Daratista misalnya,
ia tidak hanya berhenti pada
kontroversi goyang yang sempat
menghebohkan itu, tetapi juga ia
ingin menunjukkan
ketidakkonsistenan masyarakat
dalam menghadapi sebuah gejala.
Hal ini, menurut Emha, adalah
disebabkan boleh latar belakang
budaya dan infrastruktur alam
pikiran masyrakat itu sendiri.
Misalnya saja, melarang habis-
habisan orang untuk korupsi, tetapi
jika dirinya kecipratan hasilnya,
korupsi seakan-akan menjadi legal
(Hal. 16).
Sebagai murid
Hal yang sama juga tampak saat
Emha berbicara soal bencana
Tsunami yang terjadi di tahun 2004
di Aceh. Di sini ia tidak melulu
berbicara mengenai gempa secara
teknis, tetapi ia justru menelaah
peristiwa tersebut dari sisi spritual
yang reflektif dan kontemplatif.
Hal lain yang menarik dari kumpulan
tulisan ini, Emha mengingatkan
bahwa tulisannya selalu bertolak
pada tanggung jawab sebagai
anggota masyarakat dan bangsa,
bukan pada “karir” kepenulisannya.
Tidak mengherankan jika kemudian
Emha acap kali memosisikan diri
sebagai bagian dalam kehidupan
masyarakat yang tengah dikritisinya.
Malah ia menempatkan diri sebagai
“ murid” dari masyarakat atau umat.
Keegaliteran inilah yang membuat
Emha selalu dapat diterima di
berbagai lapisan dan golongan
masyarakat.
Dalam buku yang tidak diberi
pengantar, baik dari editor, penerbit
maupun penulisnya sendiri ini, esai-
esai Emha dikelompokkan menjadi
enam bagian besar yaitu Podium
Husni yang banyak mengupas
persoalan kebudayaan, Sekul dan
Uler yang menyoal ideologi negara
dan kepemimpinan, Santri Teror
yang membahas masalah santri dan
alam pikiran para santri, Generasi
Kempong yang mengajak pembaca
untuk melihat berbagai kekacauan
sikap budaya dan kemunafikan,
“ Wong Cilik” dan Dendam Rindu
Jakarta yang berbicara mengenai
kaum marjinal, dan Gunung Jangan
Pula Meletus yang mencoba
memaknai bencana yang melanda
Indonesia.
Sayangnya, tidak semua esai dalam
buku ini menyebutkan sumber
tulisannya. Akibatnya, pembaca
tidak pernah tahu konteks
sesungguhnya dari tulisan-tulisan
tersebut. Akan lebih membantu
sebenarnya jika pembaca tahu
sumber tulisan tersebut, misalnya,
apakah esai tersebut pernah dimuat
di sebuah harian, apakah esai
tersebut merupakan makalah dalam
sebuah seminar, atau memang
tulisan-tulisan yang belum sempat
diterbitkan. Sumber karangan,
waktu ketika esai itu dibuat, dan
konteks persoalan ketika esai itu
dibuat, tentunya akan membantu
pembaca memahami gagasan-
gagsan Emha dan maksud dari
tulisan-tulisannya.***
Baca Selengkapnya... - MenghadirkanRealitas Ke RuangKontemplatif

Membuka SelubungDominasi

19 Maret 2010

Judul: Dominasi Penuh Muslihat,
Akar Kekerasan dan Diskrimnasi
Penulis: Haryatmoko
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: xv + 294 halaman
Harga: Rp. 65.000
Selalu ada kekuasaan di balik realitas
yang melingkupi sebuah
masyarakat. Sistem kemasyarakatan
hingga keketatan sebuah ideologi,
selalu dikonstruksi oleh "kekuasaan"
tertentu. "Kekuasaan" itulah yang
disebut sebagai dominasi.
Pada bagian awal buku yang ditulis
oleh Haryatmoko ini, disampaikan
sejumlah gagasan yang dapat
membantu pembaca untuk mulai
menyadari bagaimana banyak segi
dalam kehidupan telah dimistifikasi
oleh kekuatan tertentu.
Gagasan-gagasan tersebut berasal
dari para pemikir seperti Pierre
Bourdieu, Jean Baudrillard, Jurgen
Habermas, Michel Foucault, hingga
Jacques Derrida, yang terkenal selalu
"menaruh curiga" atas kebenaran-
kebenaran yang sudah terlanjur
diterima secara umum.
Michel Foucault misalnya,
mempertanyakan dominasi yang
menciptakan makna tunggal atas
seks. Foucault yang memunculkan
gagasan arkeologi pengetahuan (the
archeology of knowledge), yakin
bahwa ada kepentingan di balik
sebuah pengetahuan dalam
masyarakat.
Hal yang sama juga terdapat dalam
pemkiran Jurgen Habermas, salah
seorang pemikiran aliran kritis
Mazhab Frankfurt. Pemikiran
Habermas, demikian ditulis
Haryatmoko, ingin membebaskan
manusia dari rasionalitas
intrumental, yang kental dengan
logika dan formalisme dalam
menentukan kebenaran.
Selain itu, Haryatmoko juga melihat
ada sejumlah dominasi utama yang
kerap menjadi akar kekerasan dalam
masyarakat, yakni dominasi agama,
dominasi wacana, dan dominasi
uang yang mengarah kepada
konsumerisme.
Menurut Haryatmoko, dengan
mengutip Nelson Pallmeyer,
dominasi agama kerap memicu
kekerasan. Kekerasan relijius tidak
hanya persoalan distorsi penafsiran
teks, tetapi mengakar pada
anggapan bahwa Tuhan pun berhak
melakukan pembalasan ataupun
kekerasan sebagai bagian dari
kesucianNya.
Kemudian dominasi wacana.
Menurut Haryatmoko, dominasi
wacana adalah hal yang paling sulit
diatasi, terutama menyangkut
kekerasan simbolik. Dominasi ini
beroperasi pada tataran bahasa, cara
kerja, dan cara bertindak (hal. 128).
Selain itu, dampak dominasi wacana
cenderung halus dan tidak terasa.
Parahnya, dominasi ini diakui dan
diterima oleh si korban. Contoh jelas
dominasi wacana adalah, posisi
subordinasi perempuan.
Dominasi lain yang kental dalam
masyarakat kontemporer adalah
uang. Dalam masyarakat
kontemporer, uang menjadi ukuran
untuk menentukan berbagai hal.
Lalu konsumsi tidak lagi berdasarkan
kebutuhan, melainkan tanda.
Di sini, konsumen membeli barang
bukan karena manfaat, tetapi dalam
kaitan pemaknaan seluruh obyek
(hal. 227). Bahkan konsumsi bukan
lagi untuk memenuhi kebutuhan
dasar, tetapi karena tekanan
psikologis dan sosial.
Buku ini menarik karena dengan
memahami isinya, pembaca dapat
menjadi lebih kritis untuk melihat
dominasi di balik sistem tertentu,
yang dengannya makna kebenaran
tidak lagi tunggal.
Seperti lazimnya membaca buku-
buku beraroma filsafat yang kuat,
untuk memahami buku ini,
pembaca harus mau membuka
cakrawala pemikiran secara lebih
luas, dan memiliki usaha lebih untuk
memahami setiap terminologi serta
ide kunci yang dituangkan di
dalamnya.***
Baca Selengkapnya... - Membuka SelubungDominasi

Penunggalan MaknaTubuh olehKekuasaan

Judul: Dilarang Gondrong, Praktik
Kekuasaan Orde Baru Terhadap
Anak Muda awal Tahun 1970-an
Penulis: Aria Wiratma Yudhistira
Penerbit: Marjin Kiri
Tahun: April, 2010
Tebal: xxi + 161 Halaman
Harga: Rp. 51.000
Ketika pemaknaan atas tubuh
mengalami penunggalan oleh
praktik kekuasaan, maka tubuh
kehilangan otoritas. Kemerdekaan
tubuh pun tergantikan kekerasan
yang dehuman.
Itulah sekilas isi buku yang ditulis
oleh Aria Wiratama Yudhistira ini.
Dalam buku tersebut Aria ingin
memperlihatkan bahwa kekuasaan
dapat melakukan berbagai upaya
bukan hanya untuk mencapai
tujuan, tetapi juga melanggengkan
kekusasaan. Namun sayangnya,
cara-cara tersebut justru melupakan
hak-hak warga negara.
Secara tegas Aria merujuk kepada
praktik Orde Baru. Orde yang
muncul setelah Presiden Sokerano
jatuh itu, memang menghalalkan
berbagai cara agar cita-citanya
tercapai. Demi pembangunan,
mereka berusaha meredam ataupun
membersihkan berbagai hal yang
dicemaskan dapat mengganggu
stabilitas sosial.
Salah satu cara yang mereka dalam
rangka tersebut adalah pelarangan
terhadap rambut gondrong yang
terjadi sekitar tahun tahun 1960-an
hingga tahun 1970-an. Orde Baru
menganggap pemuda berambut
gondrong adalah pemuda yang
urakan, kotor, tidak bertanggung
jawab, dan tidak mengacuhkan
masa depan diri maupun
bangsanya.
Parahnya, berbagai lembaga
kemudian melakukan diskriminasi
terhadap pemuda berambut
gondrong. Mereka yang mengurus
Kartu Tanda Penduduk, Surat Ijin
Mengemudi, hingga Surat
Keterangan Bebas G30S, tidak akan
dilayani jika yang mengajukan
masih berambut gondrong.
Tindak diskriminasi tidak hanya
sampai di situ, pencitraan terhadap
pemuda gondrong sebagai sosok
yang harus dijauhi kian dipertajam
oleh media massa. Dalam
pemberitaan selalu ditekankan
bahwa pelaku kejahatan adalah
pemuda berambut gondrong.
Akibatnya, sosok pemuda berambut
gondrong selalu diidentikkan sebagai
pelaku kejahatan.
Kuatnya pencitraan tersebut
memunculkan fitnah, misalnya saja
ketika pecah kerusuhan di Bandung
pada tanggal 5 agustus 1973 (hal.
110). Diberitakan, pelaku kerusuhan
adalah sekelompok tukang becak
dan pemuda berambut gondrong.
Padahal, tidak ada fakta yang
mendukung hal tersebut.
Lebih parah lagi, untuk
“ menertibkan” pemuda yang
berambut gondrong, aparat kerap
menggunakan ancaman. Mereka
bahkan tidak segan melakukan
kekerasan terhadap pihak yang
mencoba menghalang-halangi
mereka.
Padahal, sulit diterima oleh akal
sehat bahwa rambut gondrong
berkaitan dengan kejahatan dan
ketidakpdulian terhadap lingkungan
sekitar. Bersikerasnya penguasa
dengan anggapan ini memerlihatkan
watak kekuasaan yang cenderung
mengenakan “kaca mata kuda”
dalam melihat persoalan.
Tentu saja hal tersebut menuai
protes dari berbagai kalangan.
Mereka dengan tegas menolak
kebijakan anti-gondrong yang
terkesan terlalu berlebihan dan
mengada-ada. Sayangnya,
keberatan tersebut tidak banyak
ditanggapi oleh penguasa.
Buku ini memperlihatkan bahwa
manifestasi kekuasaan memang
masuk ke berbagai wilayah,
termasuk tubuh pria. Pemaknaan
atas tubuh pria tidak lagi ditentukan
oleh si pemilik tubuh, tetapi oleh
kekuasaan.
Bukan tidak mungkin praktik serupa
masih terjadi hingga saat ini lewat
berbagai bentuk praktik kekuasaan
yang lain, seperti lembaga
keagamaan hingga otoritas
tertentu.***
Baca Selengkapnya... - Penunggalan MaknaTubuh olehKekuasaan

Menyurusi JejakPemikiran WS Rendra

19 Februari 2010

Judul: Rendra, Ia tidak Pernah Pergi
Tebal: xv + 388 halaman
Penerbit: Penerbit Buku Kompas,
Jakarta
Tahun: September 2009
Karya-karyanya Rendra tidak hanya
respon terhadap kondisi di
sekitarnya, namun juga
menunjukkan berbagai gagasan
mengenai kebudayan yang luas dan
menembus waktu.
Itulah yang dapat ditangkap dari
buku ini. Dari buku ini pertama-tama
pembaca dapat melihat bagaimana
"ketegangan" antara Rendra dengan
realitas yang terjadi di sekitarnya.
Ketegangan disebabkan Rendra
melihat ada yang keliru dalam arah
kebudayaan.
Rendra mencium bahwa
kebudayaan Indonesia tengah
berada dalam posisi yang
tersingkirkan. Artinya, tidak banyak
orang yang memikirkannya secara
serius untuk memperbaiki keadaan,
sebaliknya atas nama
perkembangan ataupun
pembangunan, perlahan-lahan
kebudayaan masyarakat kian
disisihkan, dan akar hal ini telah
terjadi sejak masa kolonial.
Rendra mencontohkan bagaimana
Herman Willem Daendels yang
membangun jalan berdasarkan
kepentingan perdagangan,
pertahanan militer dan kekuasaan.
Implikasi dari itu semua itu adalah
tumbuhnya sebuah ruang
metropolitan. Orang-orang desa
yang sebelumnya melakukan
perdagangan dengan pembagian
waktu berdasarakan hari pasaran
dan penghayatan kosmis, kini
berebut mendirikan rumah tepat di
tepi jalan yang dibangun oleh
Daendels (hal. 216). Akibatnya,
ketidakseimbangan kosmis terjadi.
Tentu saja hal semacam itu tidak
hanya terjadi di masa lalu, tetapi
juga pada masa kini. Ambil saja
contoh pembangunan hipermarket
di kota-kota besar. Keberadaan
hipermarket tersebut tidak hanya
menggeser pedagang kecil, tetapi
juga telah mengancam keberadaan
pasar tradisional.
Pada masa lampau pasar adalah
tempat terjadinya pertemuan
berbagai kebudayaan. Tetapi kini
interaksi tersebut terancam. Proses
tawar-menawar yang menjadi
pemandangan lumrah di pasar
tradisional kini digantikan dengan
belanja yang menghilangkan hak
pembeli untuk melakukan
penawaran.
Itu sebabnya Rendra secara tegas
mengungkapkan bahwa sesuatu
yang bersifat tradisional layak untuk
dipertimbangkan kembali. Sebab
bagaimanapun, tradisi lama dan
kearifan tradisional dapat diolah
kembali untuk memperkuat kohesi
masyarakat, sekaligus sebagai
modal untuk membangun bangsa
dengan lebih baik dan manusiawi.
Pertanyaan yang kemudian muncul
adalah, apakah hal yang dilakukan
oleh Rendra merupakan sesuatau
yang sia-sia? Bukankah pementasan
teater maupun pembacaan sajak
yang dibawakan oleh Rendra tidak
banyak membawa perubahaan
secara signifikan?
Ternyata Rendra memiliki idealisme
tersendiri dalam hal tersebut.. Bagi
Rendra. Seperti dikutipkan oleh
Mudji Sutrisno dalam tulisan dalam
buku ini, Fenomena Koko dan
Rendra Secara Budaya (Hal. 53),
bahwa bagi Rendra seseorang boleh
saja merasa lelah dan merasa sia-sia
memikirkan gambaran keadaan
manusia masa kini, namun ia tidak
boleh berhenti berjuang dan
bersuara memperjuangkan
tegaknya martabat manusia
Indonesia.
Rasanya, ungkapan Rendra tersebut
bukan tanpa alasan. Rendra sendiri
yakin bahwa Indonesia masih
memiliki masa depan. Ini dapat
ditangkap lewat ucapannya dalam
sebuah wawancara. Menurut
Rendra Indonesia masih punya
masa depan selama masih ada
pengusaha menengah dan orang-
orang muda.
Menurutnya, pengusaha menengah
telah terbukti kekenyalannya sejak
masa tanam paksa di jaman
Belanda. Kini pengusaha menengah
telah dapat menyerap tenaga kerja
hingga 30 juta orang. Sedangkan
anak muda, dalam pengamatan
Rendra, kini semakin banyak
melahap buku-buku humaniora,
dan semakin kritis dalam
menggugat masalah-masalah
kebangsaan. Bagi Rendra, fenomena
ini merupakan investasi budaya.
Selain itu, Rendra juga ternyata
bukan sosok yang hanya
memikirkan masalah kesenian. Ia
pun memikirkan bagaimana orang-
orang yang hidup dari kesenian.
Rendra paham benar, di Indonesia
orang tidak dapat hidup melulu dari
kesenian. Bahkan ia dan anggota
Bengkel Teater pernah mengalami
kesulitan keuangan pada tahun
1970-an.
Menurut Rendra, sulitnya
menggantungkan hidup dari teater
disebabkan di Indonesia belum ada
infrastruktur yang memungkinkan
para pemain teater bisa berkarya
secara total. Di sejumlah negara
maju infrastruktur semacam itu
sudah dibangun. Di negara-negara
semacam ini para penggiat teater
tidak hanya didukung oleh agen
yang profesional, tetapi juga
lembaga lain, sebutlah bank, yang
siap mendukung kegiatan teater.
Kenyataan ini menunjukkan bahwa
seluruh pihak memang memiliki
keperdulian terhadap kebudayaan,
Itu sebabnya Rendra bertekad untuk
membuat orang-orang dalam
Begkel Teater menjadi lebih
sejahtera. Hal ini terungkap dalam
wawancara dengan Rendra
berkaitan dengan Bengkel Teater dan
para anggotanya. Dalam
wawancara yang dilakukan pada
tahun 1989 tersebut, Rendra
mengungkapkan keinginnya untuk
mendirikan sebuah padepokan
(hal.149)yang dapat memenuhi
kebutuhan dasar dan kesejahteraan
ekonomi anggota Bengkel Teater
dapat terpenuhi.
Buku yang terdiri dari sejumlah
tulisan yang ditulis oleh budayawan,
sastrawan, sampai wartwan ini
memang tidak dapat dikatakan
mewakili secara keseluruhan
gagasan kebudayaan seorang
Rendra. Namun, paling tidak,
terbitnya buku ini telah membantu
terkumpulnya berbagai gagasan
kebudayaan Rendra yang masih
tercecer di berbagai media.****
Dimuat di Koran Jakarta, 8 Oktober
2009
Baca Selengkapnya... - Menyurusi JejakPemikiran WS Rendra

Membuka SelubungDominasi

Judul: Dominasi Penuh Muslihat,
Akar Kekerasan dan Diskrimnasi
Penulis: Haryatmoko
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: xv + 294 halaman
Harga: Rp. 65.000
Selalu ada kekuasaan di balik realitas
yang melingkupi sebuah
masyarakat. Sistem kemasyarakatan
hingga keketatan sebuah ideologi,
selalu dikonstruksi oleh "kekuasaan"
tertentu. "Kekuasaan" itulah yang
disebut sebagai dominasi.
Pada bagian awal buku yang ditulis
oleh Haryatmoko ini, disampaikan
sejumlah gagasan yang dapat
membantu pembaca untuk mulai
menyadari bagaimana banyak segi
dalam kehidupan telah dimistifikasi
oleh kekuatan tertentu.
Gagasan-gagasan tersebut berasal
dari para pemikir seperti Pierre
Bourdieu, Jean Baudrillard, Jurgen
Habermas, Michel Foucault, hingga
Jacques Derrida, yang terkenal selalu
"menaruh curiga" atas kebenaran-
kebenaran yang sudah terlanjur
diterima secara umum.
Michel Foucault misalnya,
mempertanyakan dominasi yang
menciptakan makna tunggal atas
seks. Foucault yang memunculkan
gagasan arkeologi pengetahuan (the
archeology of knowledge), yakin
bahwa ada kepentingan di balik
sebuah pengetahuan dalam
masyarakat.
Hal yang sama juga terdapat dalam
pemkiran Jurgen Habermas, salah
seorang pemikiran aliran kritis
Mazhab Frankfurt. Pemikiran
Habermas, demikian ditulis
Haryatmoko, ingin membebaskan
manusia dari rasionalitas
intrumental, yang kental dengan
logika dan formalisme dalam
menentukan kebenaran.
Selain itu, Haryatmoko juga melihat
ada sejumlah dominasi utama yang
kerap menjadi akar kekerasan dalam
masyarakat, yakni dominasi agama,
dominasi wacana, dan dominasi
uang yang mengarah kepada
konsumerisme.
Menurut Haryatmoko, dengan
mengutip Nelson Pallmeyer,
dominasi agama kerap memicu
kekerasan. Kekerasan relijius tidak
hanya persoalan distorsi penafsiran
teks, tetapi mengakar pada
anggapan bahwa Tuhan pun berhak
melakukan pembalasan ataupun
kekerasan sebagai bagian dari
kesucianNya.
Kemudian dominasi wacana.
Menurut Haryatmoko, dominasi
wacana adalah hal yang paling sulit
diatasi, terutama menyangkut
kekerasan simbolik. Dominasi ini
beroperasi pada tataran bahasa, cara
kerja, dan cara bertindak (hal. 128).
Selain itu, dampak dominasi wacana
cenderung halus dan tidak terasa.
Parahnya, dominasi ini diakui dan
diterima oleh si korban. Contoh jelas
dominasi wacana adalah, posisi
subordinasi perempuan.
Dominasi lain yang kental dalam
masyarakat kontemporer adalah
uang. Dalam masyarakat
kontemporer, uang menjadi ukuran
untuk menentukan berbagai hal.
Lalu konsumsi tidak lagi berdasarkan
kebutuhan, melainkan tanda.
Di sini, konsumen membeli barang
bukan karena manfaat, tetapi dalam
kaitan pemaknaan seluruh obyek
(hal. 227). Bahkan konsumsi bukan
lagi untuk memenuhi kebutuhan
dasar, tetapi karena tekanan
psikologis dan sosial.
Buku ini menarik karena dengan
memahami isinya, pembaca dapat
menjadi lebih kritis untuk melihat
dominasi di balik sistem tertentu,
yang dengannya makna kebenaran
tidak lagi tunggal.
Seperti lazimnya membaca buku-
buku beraroma filsafat yang kuat,
untuk memahami buku ini,
pembaca harus mau membuka
cakrawala pemikiran secara lebih
luas, dan memiliki usaha lebih untuk
memahami setiap terminologi serta
ide kunci yang dituangkan di
dalamnya.***
(Dimuat di Koran Jakarta edisi 14 Juli
2010)
DIPOSKAN OLEH NIGAR
PANDRIANTO DI 23.22
Baca Selengkapnya... - Membuka SelubungDominasi