Menyurusi JejakPemikiran WS Rendra

19 Februari 2010

Judul: Rendra, Ia tidak Pernah Pergi
Tebal: xv + 388 halaman
Penerbit: Penerbit Buku Kompas,
Jakarta
Tahun: September 2009
Karya-karyanya Rendra tidak hanya
respon terhadap kondisi di
sekitarnya, namun juga
menunjukkan berbagai gagasan
mengenai kebudayan yang luas dan
menembus waktu.
Itulah yang dapat ditangkap dari
buku ini. Dari buku ini pertama-tama
pembaca dapat melihat bagaimana
"ketegangan" antara Rendra dengan
realitas yang terjadi di sekitarnya.
Ketegangan disebabkan Rendra
melihat ada yang keliru dalam arah
kebudayaan.
Rendra mencium bahwa
kebudayaan Indonesia tengah
berada dalam posisi yang
tersingkirkan. Artinya, tidak banyak
orang yang memikirkannya secara
serius untuk memperbaiki keadaan,
sebaliknya atas nama
perkembangan ataupun
pembangunan, perlahan-lahan
kebudayaan masyarakat kian
disisihkan, dan akar hal ini telah
terjadi sejak masa kolonial.
Rendra mencontohkan bagaimana
Herman Willem Daendels yang
membangun jalan berdasarkan
kepentingan perdagangan,
pertahanan militer dan kekuasaan.
Implikasi dari itu semua itu adalah
tumbuhnya sebuah ruang
metropolitan. Orang-orang desa
yang sebelumnya melakukan
perdagangan dengan pembagian
waktu berdasarakan hari pasaran
dan penghayatan kosmis, kini
berebut mendirikan rumah tepat di
tepi jalan yang dibangun oleh
Daendels (hal. 216). Akibatnya,
ketidakseimbangan kosmis terjadi.
Tentu saja hal semacam itu tidak
hanya terjadi di masa lalu, tetapi
juga pada masa kini. Ambil saja
contoh pembangunan hipermarket
di kota-kota besar. Keberadaan
hipermarket tersebut tidak hanya
menggeser pedagang kecil, tetapi
juga telah mengancam keberadaan
pasar tradisional.
Pada masa lampau pasar adalah
tempat terjadinya pertemuan
berbagai kebudayaan. Tetapi kini
interaksi tersebut terancam. Proses
tawar-menawar yang menjadi
pemandangan lumrah di pasar
tradisional kini digantikan dengan
belanja yang menghilangkan hak
pembeli untuk melakukan
penawaran.
Itu sebabnya Rendra secara tegas
mengungkapkan bahwa sesuatu
yang bersifat tradisional layak untuk
dipertimbangkan kembali. Sebab
bagaimanapun, tradisi lama dan
kearifan tradisional dapat diolah
kembali untuk memperkuat kohesi
masyarakat, sekaligus sebagai
modal untuk membangun bangsa
dengan lebih baik dan manusiawi.
Pertanyaan yang kemudian muncul
adalah, apakah hal yang dilakukan
oleh Rendra merupakan sesuatau
yang sia-sia? Bukankah pementasan
teater maupun pembacaan sajak
yang dibawakan oleh Rendra tidak
banyak membawa perubahaan
secara signifikan?
Ternyata Rendra memiliki idealisme
tersendiri dalam hal tersebut.. Bagi
Rendra. Seperti dikutipkan oleh
Mudji Sutrisno dalam tulisan dalam
buku ini, Fenomena Koko dan
Rendra Secara Budaya (Hal. 53),
bahwa bagi Rendra seseorang boleh
saja merasa lelah dan merasa sia-sia
memikirkan gambaran keadaan
manusia masa kini, namun ia tidak
boleh berhenti berjuang dan
bersuara memperjuangkan
tegaknya martabat manusia
Indonesia.
Rasanya, ungkapan Rendra tersebut
bukan tanpa alasan. Rendra sendiri
yakin bahwa Indonesia masih
memiliki masa depan. Ini dapat
ditangkap lewat ucapannya dalam
sebuah wawancara. Menurut
Rendra Indonesia masih punya
masa depan selama masih ada
pengusaha menengah dan orang-
orang muda.
Menurutnya, pengusaha menengah
telah terbukti kekenyalannya sejak
masa tanam paksa di jaman
Belanda. Kini pengusaha menengah
telah dapat menyerap tenaga kerja
hingga 30 juta orang. Sedangkan
anak muda, dalam pengamatan
Rendra, kini semakin banyak
melahap buku-buku humaniora,
dan semakin kritis dalam
menggugat masalah-masalah
kebangsaan. Bagi Rendra, fenomena
ini merupakan investasi budaya.
Selain itu, Rendra juga ternyata
bukan sosok yang hanya
memikirkan masalah kesenian. Ia
pun memikirkan bagaimana orang-
orang yang hidup dari kesenian.
Rendra paham benar, di Indonesia
orang tidak dapat hidup melulu dari
kesenian. Bahkan ia dan anggota
Bengkel Teater pernah mengalami
kesulitan keuangan pada tahun
1970-an.
Menurut Rendra, sulitnya
menggantungkan hidup dari teater
disebabkan di Indonesia belum ada
infrastruktur yang memungkinkan
para pemain teater bisa berkarya
secara total. Di sejumlah negara
maju infrastruktur semacam itu
sudah dibangun. Di negara-negara
semacam ini para penggiat teater
tidak hanya didukung oleh agen
yang profesional, tetapi juga
lembaga lain, sebutlah bank, yang
siap mendukung kegiatan teater.
Kenyataan ini menunjukkan bahwa
seluruh pihak memang memiliki
keperdulian terhadap kebudayaan,
Itu sebabnya Rendra bertekad untuk
membuat orang-orang dalam
Begkel Teater menjadi lebih
sejahtera. Hal ini terungkap dalam
wawancara dengan Rendra
berkaitan dengan Bengkel Teater dan
para anggotanya. Dalam
wawancara yang dilakukan pada
tahun 1989 tersebut, Rendra
mengungkapkan keinginnya untuk
mendirikan sebuah padepokan
(hal.149)yang dapat memenuhi
kebutuhan dasar dan kesejahteraan
ekonomi anggota Bengkel Teater
dapat terpenuhi.
Buku yang terdiri dari sejumlah
tulisan yang ditulis oleh budayawan,
sastrawan, sampai wartwan ini
memang tidak dapat dikatakan
mewakili secara keseluruhan
gagasan kebudayaan seorang
Rendra. Namun, paling tidak,
terbitnya buku ini telah membantu
terkumpulnya berbagai gagasan
kebudayaan Rendra yang masih
tercecer di berbagai media.****
Dimuat di Koran Jakarta, 8 Oktober
2009